Petani Jateng Belum Minati Sistem Tunda Jual

Ilustrasi cold storage. (pwcold.com)
18 Maret 2019 02:50 WIB Yudi Supriyanto Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggangap masyarakat masih perlu diajak untuk memahami persoalan-persoalan penjualan di tengah sistem penundaan jual beberapa barang komoditas. Sistem tunda jual dan resi gudang terhadap beberapa komoditas diyakini bakal berpengaruh terhadap inflasi.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan masyarakat membutuhkan pendapatan untuk bisa digunakan sehari-hari. Oleh karena itu, persoalan penundaan penjualan hasil komoditas kerap menimbulkan pertanyaan dari petani.

Teknologi semacam cold storage menjadi penting dalam menjaga hasil panen komoditas dan teknologi seperti ozonisasi yang dimiliki oleh Universitas Diponegoro Semarang bisa berjalan dan cukup bisa menyelesaikan masalah. “Tapi, sistem tunda jual, resi gudang belum terlalu laku,” kata Ganjar di Kota Semarang, Jumat (15/3/2019).

Dia menjelaskan masyarakat masih perlu diajak untuk memahami persoalan-persoalan penjualan di tengah sistem penundaan jual beberapa barang komoditas. Oleh karena itu, akses modal dan pendampingan terhadap masyarakat menjadi sangat penting.

Saat ini, lanjutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakuakan berbagai langkah dalam mengatasi masalah harga-harga barang komoditas yang kerap bergerak naik dan turun. Terakhir, pemprov memutuskan untuk membeli cabai dari petani seharga Rp18.000/ kilogram guna mengatasi rendahnya harga cabai di tingkat petani akibat pasokan yang berlebih.

Pemprov, lanjutnya selalu memantau produk-produk yang berpotensi membuat inflasi menjadi tinggi pada musim-musim tertentu. “Meskipun dalam musim-musim tertentu, produk-produk yang membuat inflasi itu selalu kita pantau. Namun, masih saja terjadi karena kita mencoba memperbaiki data terus-menerus dan belum tuntas. Kemarin yang terjadi terakhir agak ramai adalah cabai,” katanya.

Dia menambahkan pihaknya selalu bekerja sama dengan Bank Indonesia terkait dengan kondisi di daerah. Oleh karena itu, dirinya berharap kerja sama terus berjalan dengan adanya pergantian kepala perwakilan Bank Indonesia perwakilan Jawa Tengah. Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Sugeng mengungkapkan, koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga pasokan barang juga dilakukan oleh Bank Indonesia selain melakukan kebijakan moneter dalam mengendalikan inflasi.

“Dari sisi pengendalian inflasi, Bank Indonesia melakukan berbagai langkah dalam mengendalikan inflasi,” katanya.

Tidak hanya terkait pengendalian inflasi, lanjutnya kerja sama yang harus diperkuat antara BI dengan pemerintah, OJK, dan mitra kerja lainnya juga terkait perbaikan struktur perekonomian, stabilitas sistem keuangan, serta ekonomi dan keuangan digital. “Sinergi adalah kata kunci untuk memperkuat ketahanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis