Kunjungi Semarang, Ketua KPU Curhat Kerap Jadi Sasaran Hoax

Ketua KPU, Arief Budiman, diwawancarai awak media di Gedung Balai Kota Semarang, Selasa (19/3 - 2019). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
19 Maret 2019 18:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, memiliki sederet kisah menarik. Salah satunya, adalah di kala Arief kerap menjadi sasaran kabar bohong alias hoax.

Keluh kesah itu disampaikan pria kelahiran Surabaya, 2 Maret 1974 itu, saat menghadiri acara Seminar Nasional Prospek Demokrasi Elektoral Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemilu Tahun 2019 di Balai Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (19/3/2019).

Arief mengaku serangan hoaks yang diterimanya banyak yang diabaikan. Namun, untuk beberapa kasus, Arief mengaku jengkel hingga harus mengambil tindakan, seperti kabar terkait sudah tercoblosnya surat suara untuk Pemilu 2019 sebanyak tujuh kontainer.

“Saya sakit hati itu. Kalau kontainer [surat suara] kan saya perintahkan. Saya marah betul. Ini keterlaluan. Kemudian saya laporkan [ke polisi]. Sudah lapor, dibilang lebay,” ujar Arief.

Bukan hanya itu, hoaks juga pernah menyerang pribadi Arief. Saat itu, Arief dikabarkan merupakan saudara kandung mendiang aktivis Soe Hok Gie, sehingga diragukan netralitasnya. Arief memang memiliki nama yang sama dengan kakak kandung Soe Hok Gie, yakni Arief Budiman, yang kini tinggal di Australia.

Meski demikian, ia tidak memiliki pertalian darah dengan keluarga Soe Hok Gie. Menanggapi hal itu, ia pun membuat klarifikasi melalu media sosial yang disertai dengan meme.

“Saya tidak marah, saya biarkan. Bikin saja keterangan. Karena ini era milenial, saya bikin gitu [klarifikasi di medsos dan melalui meme]. Nama sama tapi orangnya beda, keles,” ujar Arief.

Hoax lain yang diterima adalah tudingan KPU mendata orang gila. Arief kemudian menjelaskan bahwa yang didata KPU adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan bukan orang dengan penyakit gila yang sudah tidak bisa mengenali diri sendiri.

"Yang kami data bukan orang gila yang di pinggir jalan, yang tidak pakai baju, mengenali diri tidak bisa. Bukan itu. Kalau lihat wajah kalian mungkin masuk (ODGJ), banyak utang, putus pacar, ribut dengan suami, jangan dikira, kalau saya diperiksa psikiater mungkin masuk ODGJ. Saya jam 01.00 [WIB] belum bisa tidur itu termasuk ODGJ," jelas Arief.

Dia menyayangkan beredarnya hoax. Meski demikian, Arief lebih menyayangkan para pelakunya. Menurutnya, para penyebar hoaks maupun pelaku peretasan yang mengincar website KPU tergolong masih muda, bahkan beberapa di antara mereka merupakan pelajar SMA.

"Yang lebih merisaukan itu bukan hoax-nya tapi pelakunya. Yang sebar dan meng-hack, sebagian anak-anak SMA. Anak-anak kita yang pintar itu melakukan hal seperti itu. Siapa yang ajarkan?” ujar Arief.

Serangan hoax atau peretasan, lanjut Arief, memang banyak yang didiamkan atau dilawan melalui klarifikasi di media sosial. Meski demikian, jika sudah mengarah ke perbuatan tercela dan mengganggu proses pemilu, ia pun tak segan melaporkan ke aparat kepolisian.

"Saya tidak pernah marah. Tapi, ketika ada hal penting dan substansial ganggu pemliu, ya kita lawan," tegas alumnus Universitas Airlangga (Unair) itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya