Wakil Ketua DPR Didakwa Bukan Hanya Disuap 1 Bupati

Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (20/3 - 2019). (Antara/I.C.Senjaya)
21 Maret 2019 02:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang yang mengadili Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan, Rabu (20/3/2019), mengungkapkan pimpinan parlemen itu bukan hanya menerima uang suap dari seorang bupati.

Dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang itu, Jaksa Penuntut Umum Eva Yustiana mendakwanya menerima uang suap dari Bupati Kebumen Yahya Fuad dan Bupati Purbalingga Tasdi dengan nilai total Rp4.8 miliar. Menurutnya, uang suap tersebut merupakan fee dari pengurusan dana alokasi khusus untuk kedua daerah tersebut.

Kabupaten Kebumen memperoleh DAK melalui perubahan APBN 2016 senilai Rp93 miliar, sementara Kabupaten Purbalingga memperoleh DAK melalui perubahan APBN 2017 senilai Rp40 miliar. Dalam dakwaannya itu, jaksa menilai terdakwa menerima hadiah atau janji dari Bupati Yahya Fuad berkaitan dengan pengurusan DAK untuk kabupaten tersebut.

Menurut jaksa, terdakwa menawarkan kepada Bupati Kebumen untuk mengurus anggaran pembangunan infrastruktur bagi kabupaten itu melalui DAK. "Terdakwa menyatakn siap memperjuangkan anggaran DAK untuk Kabupaten Kebumen di Badan Anggaran DPR," katanya dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua Antonius Widijantono tersebut.

Atas usulan anggaran tersebut, terdakwa meminta fee sebesar 5 persen dari DAK yang dicairkan nantinya. Kabupaten Purbalingga sendiri akhirnya memperoleh alokasi DAK dalam perubahan APBN 2016 senilai Rp93 miliar.

Fee yang diterima oleh terdakwa totalnya mencapai Rp3,6 miliar yang diberikan dalam dua tahap. Terdakwa juga menawarkan alokasi DAK kepada Bupati Purbalingga Tasdi melalui perubahan APBN 2017.

Kabupaten Purbalingga sendiri memperoleh alokasi DAK sebesar Rp40 miliar dari perubahan APBN 2017. Atas pencairam DAK tersebut, terdakwa memperoleh fee sebesar Rp1,2 miliar.

Menurut jaksa, pemberian uang tersebut diduga bertujuan untuk menggerakkan terdakwa berkaitan dengan jabatan yang dimilikinya. Atas perbuatannya, jaksa mendakwa politikus Partai Amanat Nasional itu telah melanggar Pasal 12 huruf a dan Pasal 11 UU No. 31/1999 yang telah diubah dan ditambahkan dengan UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Atas dakwaan yang disampaikan tersebut, terdakwa menyatakan tidak akan menyampaikam tanggapan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara