TKD Jokowi-Ma’ruf Jateng Tuduh Survei Litbang Kompas Berbumbu Politik

Ketua Tim Kampanye Daerah Jawa Tengah Pasangan Capres/Cawapres Joko Widodo/Ma'ruf Amin, Bambang Wuryanto. (Antara/Wisnu Adhi)
22 Maret 2019 11:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Joko Widodo-K.H. Ma'ruf Amin Jawa Tengah, Bambang Wuryanto, menyebut hasil survei Litbang Kompas yang terbaru terkait Pemilu 2019, sudah diberi bumbu politik untuk menciptakan persepsi tertentu. Berdasarkan survei Litbang Kompas itu, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf turun menjadi 49,2%.

"Survei adalah sebuah riset akademis, tapi kemudian dibumbui dengan bumbu-bumbu politik sehingga dipersepsikan, sudah diolah agar semangat pendukung Jokowi mentalnya jatuh dan pendukungnya surut," katanya di Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (21/3/2019).

Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas, elektabilitas pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf dalam Pilpres 2019 kini turun menjadi 49,2%. Sedangkan pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandiaga 37,4% dan 13,4% responden menyatakan rahasia sehingga jarak elektabilitas kedua pasangan capres semakin menyempit menjadi 11,8%.

Menurut pria yang akrab disapa Bambang Pacul itu, jika hasil survei dicermati ada ekstrapolasi elektabilitas di angka 57%-61% sehingga dirinya menganggap survei yang diolah kemudian dipersepsikan kepada publik agar mengira pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf akan kalah pada Pilpres 2019. Ia mencontohkan hasil survei di Jateng serta Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 61,6% dan itu tidak sesuai kenyataan di lapangan.

Dari survei internal partai yang dilakukan pihaknya, kata Bambang, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di Jateng justru mengalami kenaikan terus. Bahkan dalam survei internal 10 hari lalu, elektabilitas pasangan 01 mencapai 68,8%, hasil survei termutakhir bahkan naik di angka 72%. "Itu [survei Litbang Kompas] 100% salah, mengolah angkanya salah. Jateng justru naik terus, secara periode tidak pernah turun," katanya.

Bambang Pacul juga mempertanyakan akurasi survei Litbang Kompas terkait pilpres mendatang, sebab pada Pilgub Jateng lalu, pasangan Ganjar-Yasin disebutkan akan meraih suara 79%, namun faktanya suara yang diraih 57%. "Bagaimanapun sebuah survei tak bisa dipercaya penuh. Tidak boleh berpegang mati pada survei karena survei hanya alat kita agar bekerja lebih baik lagi," ujarnya.

Ia menambahkan menjelang waktu pemungutan suara Pemiku 2019, upaya pemenangan Jokowi-Amin di Jateng terus dilakukan.

PDIP, lanjutnya, masih mengandalkan pergerakan dari para caleg dan 48 kelompok sukarelawan di Jateng yang telah didaftarkan. "Pak Jokowi punya sukarelawan yang terus bergerak, sedangkan partai punya pasukan reguler dan non-reguler. Semua terus bergerak," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara