Caleg PDIP Dapil I Jateng Ingatkan Pemerintah Tak Ikuti AS Blokir 5G Huawei

Drone yang dipersiapkan untuk jaringan 5G dipajang di ruang pamer industri telekomunikasi Huawei di Shenzhen, China. (Antara/M. Irfan Ilmie)
27 Maret 2019 01:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Sekretaris Departemen Pemerintahan DPP PDI Perjuangan Hanjaya Setiawan meminta pemerintah tidak mengikuti ajakan pemblokiran frekuensi jaringan seluler 5G Huawei yang dilakukan Amerika Serikat (AS).

"Kalau ikut memblokir 5G, interkoneksi antarjaringan akan semakin sulit dan mahal, yang pada akhirnya konsumen akan menanggung beban biaya," kata Hanjaya Setiawan saat dihubungi melalui sambungan telepon dari Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (26/3/2019).

Menurut dia, alasan AS menolak frekuensi jaringan seluler 5G itu tidak memiliki dasar ilmiah dan berpotensi merugikan konsumen telekomunikasi karena justru membuat konsumen kehilangan kesempatan menikmati teknologi tinggi berbiaya murah. Apalagi, lanjut dia, dalam era Industri 4.0 dibutuhkan teknologi koneksi telekomunikasi yang mumpuni, namun terjangkau.

"Hal itu justru berpotensi merugikan konsumen telekomunikasi, bahkan terindikasi sebagai praktik perang dagang yang tidak sehat," ujar caleg DPR dari  Daerah Pemilihan Jateng I pada Pemilu 2019 yang meliputi Kota Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Semarang, serta Kendal itu.

Terbukti, lanjut dia, negara sekutu utama Amerika yang memiliki kemampuan teknologi tinggi, yakni Inggris dan Jerman, menolak ajakan pemblokiran jaringan seluler yang dilakukan AS tersebut. Bahkan, Robert Hannigan, mantan Direktur Intelligent Signals and Cryptography di Kantor Pusat Komunikasi Pemerintah (GCHQ), menyatakan klaim Amerika tersebut sebagai omong kosong.

"Sebagai negara yang punya kecenderungan menganut pasar bebas, Amerika seharusnya memberikan kesempatan kepada provider telekomunikasi untuk menghadirkan layanan canggih berbiaya murah melalui praktik kompetisi yang sehat," katanya.

Lebih lanjut, Hanjaya meminta pemerintah Indonesia mendorong perusahaan telekomunikasi untuk mengoptimalkan frekuensi jaringan seluler 4G yang ada sekarang, sebelum melangkah ke jaringan seluler 5G. "Nanti kalau saatnya masuk ke frekuensi jaringan seluler 5G, pemerintah diharapkan memilih penyedia layanan jaringan seluler 5G terbaik tanpa takut akan tekanan politik dari pihak negara mana pun dan pertimbangan harus berdasarkan manfaat bagi negara, masyarakat, serta konsumen telekomunikasi," ujarnya.

Amerika Serikat dikabarkan memperingatkan sekutu-sekutu negara adidaya itu agar tidak menggunakan teknologi Huawei terkait dengan penggunaan frekuensi jaringan seluler 5G. Huawei adalah pemasok perangkat 5G utama ke beberapa operator telekomunikasi besar dunia. Pemblokiran yang diprakarsai AS itu karena menganggap penggunaan frekuensi jaringan seluler 5G itu bisa mengancam keamanan negara adidaya itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara