Undip Dampingi Peternak Kalkun Kudus, Guru Besar Turun Langsung

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Catur Sulistiyanto dan Guru Besar Bidang Unggas Fakultas Peternakan Undip Dwi Sunarti di peternakan kalkun Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rabu (3/4 - 2019). (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
04 April 2019 08:50 WIB newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, KUDUS — Universitas Diponegoro Semarang memberikan pendampingan bagi peternak kalkun di Kabupaten Kudus dengan harapan mereka makin berkembang sehingga konsumsi unggas yang memiliki sumber protein tinggi itu juga kian bertambah.

"Harapannya tentu tingkat konsumsi masyarakat terhadap daging ayam kalkun bisa mengimbangi tingkat konsumsi ayam pedaging," kata Guru Besar Bidang Unggas Fakultas Peternakan Undip Dwi Sunarti di sela-sela acara pelatihan membuat jamu untuk ayam kalkun di Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Rabu (3/4/2019).

Ia mengaku siap memberikan pendampingan karena pertemuannya dengan peternak ayam kalkun di Kudus merupakan sebuah keberuntungan. Selama ini, diakuinya ia memang mencari peternak kalkun yang benar-benar ingin mengembangkan.

Menurut dia, melihat perkembangan peternakan kalkun di Kabupaten Kudus, khusus di Desa Undaan Tengah, tentunya patut diberikan perhatian oleh berbagai pihak. "Pemerintah kabupaten melalui Dinas Pertanian Kudus juga sudah memberikan perhatian dengan memfasilitasi dalam pembentukan kelompok," ujarnya.

Menurut Dwi Sunarti,  prospek peternakan kalkun cukup bagus karena daya tetas telurnya yang cukup tinggi, sedangkan fertilitasnya juga demikian. Hal itu, kata dia, tentunya didukung dengan asupan pakan protein dan penyubur benih sperma dari pejantan yang cukup tinggi. Selain itu, kandungan lemaknya memang hampir sama dengan ayam pedaging, namun asam lemak jahatnya sangat rendah.

"Semua produk unggas baik untuk pemenuhan gizi manusia, terutama balita," ujarnya. Pembentukan kelompok peternak kalkun dengan nama Semarak Kalkun Kudus, menurutnya tepat untuk mewujudkan cita-cita kalkun bisa bersaing dengan ayam pedaging yang semua kebutuhan pakannya masih bergantung pada produk impor.

Sementara peternak kalkun di Kudus, katanya, bisa memenuhi kebutuhan pakannya dengan bahan baku lokal, seperti enceng gondok dan keong. Sholikin, perwakilan peternak kalkun yang tergabung Semarak Kalkun Kudus (SKK) mengatakan pemerintah perlu memberikan perhatian lebih untuk meningkatkan usaha ternak kalkun di Kudus.

“Harapan kami ke depan selalu mendapatkan dukungan terus dari pemerintah Kabupaten Kudus dan dari Dinas Pertanian,” ujarnya.

Hingga saat ini, lanjut dia, ada beberapa kendala yang dialami para komunitas ayam kalkun ini, di antaranya, terkait pemasaran masih kesulitan untuk memasarkan ayam kalkun. “Dulu kami pernah mengirim ke Bali namun ketika diajak kontrak kami tidak sanggup. Ini kemudian kami juga harapkan peran pemerintah untuk ikut memasarkan ayam kalkun, padahal potensi ayam kalkun di Kudus perkembangannya cukup pesat,” ujarnya.

Di Kudus, kata dia,  bahkan sudah ada ratusan kalkun ternak. Untuk ayam kalkun yang sudah bisa dikonsumsi dan laku itu di usia enam hingga tujuh bulan, harganya mencapai Rp200.000-an. Sedangkan untuk yang bibit berkisar Rp25.000 hingga Rp30.000.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Catur Sulistyanto mengatakan Pemkab Kudus siap mendukung peternak kalkun. "Kami juga berupaya untuk kalkun dibuatkan sentra peternakan kalkun, sehingga ada orang luar mencari kalkun, bisa langsung ke Undaan Tengah. Kami akan mendorong pemerintah seperti itu," ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara