Diintimidasi Setelah Ungkap Jual Beli Jabatan, Dosen IAIN Kudus Lapor LPSK

Papan Nama Kampus IAIN Kudus, Jawa Tengah. (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
06 April 2019 04:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, KUDUS — Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus M. Saekan Muchith melaporkan dugaan intimidasi oleh sikap atau kebijakan serta pernyataan rektor IAIN setempat kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Pelaporan itu dilakukan menyusul testimoninya yang dimuat beberapa media massa terkait dengan dugaan jual beli jabatan.

"Saya juga melaporkannya kepada Komisi Aparatur Sipil Negara serta Inspektorat Jenderal Kementerian Agama. Jika saya tidak melaporkan dugaan intimidasi tersebut, dikhawatirkan akan mendapat perlakuan diskriminatif secara birokrasi dari pihak rektor secara langsung atau tidak langsung," kata Saekan di Kudus, Jateng, Kamis (4/4/2019).

Surat permohonan perlindungan dan pendampingan dikirim pada 27 Maret 2019 dengan tembusan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag. Ia mengungkapkan dugaan intimidasi dialami setelah memberikan testimoni tentang pengalamannya dalam mengikuti pengisian jabatan Ketua STAIN Kudus 2017, sedangkan April 2018 beralih menjadi IAIN Kudus.

Testimoninya itu, kata dia, dimuat di beberapa media massa online pada 22 Maret 2019 dengan judul M. Saekan Muchid Yakin Tak Terpilih jadi Ketua STAIN Kudus Karena Tak Bisa Amankan Proyek serta di media massa lainnya berjudul Dosen STAIN Kudus Mengaku Dapat Arahan Romi Amankan Teman Jakarta. Menurut dia, pengalaman suksesi STAIN Kudus pada 2017 sebatas pengalaman sehingga tidak tertarik menyampaikannya kepada publik.

Akan tetapi, imbuh dia, setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap Romahurmuziy serta memberikan keterangan kepada media bahwa OTT tersebut terkait dengan jual beli jabatan di lingkungan Kemenag, kemudian dirinya teringat pengalaman saat ikut suksesi Ketua STAIN Kudus 2017. "Secara moral, saya harus menyampaikan kepada publik dengan harapan bisa menjadi informasi tambahan bagi Kemenag untuk melakukan perbaikan sistem pengisian jabatan," ujarnya.

Ia menduga ada kesamaan antara pengangkatan Kanwil Kemenag Jatim yang akhirnya terkena OTT KPK dengan suksesi Ketua STAIN Kudus 2017. "Persamaannya, pihak yang dilantik sama-sama pernah tidak lolos tahap seleksi administrasi," ujarnya.

Ia menjelaskan dalam tulisan yang dimuat di media daring, tidak ada kalimat yang menyalahkan atau menyudutkan pihak lain. Dirinya juga tidak pernah menuduh lembaga mana pun, khususnya Kemenag, bersalah atau buruk. "Saya juga tidak pernah mengatakan kalau kampus saya IAIN Kudus terlibat dugaan kasus jual beli jabatan," ujarnya.

Ia optimistis bahwa pernyataan dari Menteri Agama dalam konferensi persnya disebutkan bahwa kasus OTT Romi tidak ada kaitannya dengan lembaga Kementerian Agama dan kasus OTT tersebut murni urusan pribadi. "Menteri Agama melalui konferensi persnya itu juga meminta kepada seluruh ASN Kemenag untuk membantu penegakan hukum yang dilakukan KPK agar bisa menyelesaikannya dengan cepat dan tuntas, sedangkan testimoni saya justru mendukung harapan Menteri Agama dan juga bagian dari mendukung KPK untuk menuntaskan dugaan jual beli jabatan secara cepat dan tuntas," ujarnya.

Rektor IAIN Kudus Mudzakir ketika dimintai tanggapannya soal tuduhan adanya jual beli jabatan menegaskan bahwa tidak pernah membeli jabatan karena tidak memiliki uang. Proses dirinya mengikuti pengisian jabatan Ketua STAIN yang saat ini berubah menjadi IAIN juga sudah dilalui secara legal dan sesuai aturan.

"Kalaupun disebutkan tidak lolos administrasi suksesi Ketua STAIN Kudus, karena panitia lokal saat itu menambah persyaratan yang tidak sesuai Peraturan Menteri Agama No. 68/2015," ujarnya.

Setelah melalui banding administrasi Dirjen Kemenag, akhirnya pendaftaran dirinya dikabulkan sehingga terdapat empat kandidat, termasuk M. Saekan Muchith. "Fathul Mufid yang merupakan Ketua STAIN saat itu juga sudah menyatakan tidak ada masalah," ujarnya.

Terkait dengan tuduhan intimidasi, katanya, tidak benar karena percakapan di grup Whatsapp memang berpendapat atas munculnya pemberitaan di beberapa media seharusnya yang bersangkutan meminta maaf karena selama ini bekerja di IAIN Kudus. Pemberitaan di media daring tersebut, juga sempat memunculkan kemarahan, menyusul para dosennya sedang semangat-semangatnya mengajukan akreditasi program studi.

Selain itu, tuduhan menggalang dukungan di grup Whatsapp juga dibantah karena Saekan justru ditawari untuk bergabung dan tentunya akan disambut dengan baik karena kerja sama semua dosen dibutuhkan untuk mendapatkan akreditasi sesuai yang diinginkan nantinya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara