Kisah Guru Ngaji di Cilacap, dari Digaji Rp750 per Bulan hingga Rp2.000

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, memberikan insentif kepada para guru ngaji di Kabupaten Cilacap, Senin (8/4 - 2019). (Semarangpos.com/Humas Pemprov Jateng)
09 April 2019 06:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, CILACAP — Selama 22 tahun menjadi guru membaca Alquran atau mengaji, berbagai pengalaman pernah dilalui Sulaiman Jufri, 62, warga Karanggintung, Cilacap. Salah satunya, yakni saat dirinya hanya dibayar Rp2.000 per bulan untuk jasanya mengajar mengaji kepada anak-anak madrasah diniyah.

Sulaiman Jufri mengampu guru ngaji di Madrasah Diniyah Miftahul Huda, Karanggintung, Gandrungmangu Cilacap. Untuk menghidupi madin tersebut, masyarakat sekitar secara swadaya iuran yang dijadikan operasional.

Proses swadaya untuk menghidupi madrasah diniyah yang mengampu 209 santri itu pun masih diterapkan sampai sekarang. Saat ini wali murid iuran Rp20.000 per bulan, yang dibagi untuk biaya operasional dan membayar 10 orang guru.

"Tekadnya ya karena keikhlasan ngajar ngaji anak-anak. Tidak lebih. Kami pun tidak pernah mengharap berapa bayarannya," kata Sulaiman, seperti dikutip dalam siaran pers Humas Pemprov Jateng, Senin (8/4).

Sulaiman Jufri telah jadi guru ngaji sejak tahun 1997 atau 22 tahun silam. Dulu, saat awal mengajar, para santri belajar di masjid. Kini, mereka sudah memiliki gedung yang biaya pembangunannya diperoleh dari hasil swadaya wali murid.

Saat belum memiliki gedung, para guru bahkan hanya menerima itu para guru ngaji hanya menerima bisyaroh atau Rp750 per bulan. Bisyaroh ini pun lama-lama meningkat, meski pun tak terlalu signifikan untuk ukuran biaya kebutuhan sehari-hari saat ini, yakni Rp2.000 per bulan.

"Madrasah Diniyah Miftahul Huda berdiri karena usulan masyarakat pada kiai. Kiai akhirnya rembugan dengan santri senior. Jadi awalnya didirikan secara swadaya," imbuh Sulaiman.

Bersama 3.145 guru ngaji se-Kabupaten Cilacap, Sulaiman akhirnya menerima hibah insentif dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fiel, Kesugihan Cilacap. Mereka menerima bisyaroh Rp1,2 juta dalam setahun yang akan diterima per triwulan. Sulaiman pun merasa bersyukur karena akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah.

"Kami tidak mengharap insentifnya, karena selama ini pun tanpa hibah dari pemerintah madin juga berjalan, tapi perhatian pemerintah pada guru ngaji dengan pemberian insentif ini luar biasa. Karena kan kami membangun akhlak anak-anak,” ujarnya.

Selain guru ngaji di Cilacap, Pemprov Jateng juga telah menyerahkan insentif untuk guru ngaji di Pati, Kota dan Kabupaten Semarang, Magelang, Purworejo, Purbalingga dan lainnya. Pada tahun anggaran 2019 ini Pemprov Jateng telah mengalokasikan dana Rp205 miliar untuk 171.131 guru ngaji atau guru madrasah.

"Semoga memberi berkah. Masa depan bangsa ini bergantung pada anak-anak kita. Nah Budi pekerti, akhlak anak-anak kita bergantung pada guru ngaji ini," kata Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya