UNS Solo Juara Kompetisi Debat Konstitusi di Salatiga

Para juara Kompetisi Debat Konstitusi Mahasiswa menerima hadiah berupa trophy dan sejumlah uang pembinaan di Balairung UKSW, Rabu (10/4 - 2019). (Semarangpos.com/Humas UKSW)
11 April 2019 06:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Tim mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo tampil sebagai juara sekaligus best speaker dalam Kompetisi Debat Konstitusi Mahasiswa XII Antar-Perguruan Tinggi se-Indonesia Regional Tengah yang digelar di Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah (Jateng), Senin-Rabu (8-10/4/2019).

Sementara itu, juara kedua diraih tim Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Sedangkan juara ketiga diraih tim Universitas Tarumanegara setelah mengalahkan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Ajang yang digelar Mahkamah Konstitus bekerja sama dengan Fakultas Hukum (FH) UKSW Salatiga itu diikuti 24 perguruan tinggi di Jateng, DKI Jakarta, Yogyakarta, dan Kalimantan.

Ke-24 perguruan tinggi itu, yakni UIN Syarif Hidayatullah, STHI Jentera, Universitas Tarumanegara, UII Yogyakarta, Universitas Tanjungpura Kalimantan Barat, Undip Semarang, Universitas Mulawarman Kalimantan Timur, UNS Surakarta, UGM Yogyakarta, UNIKA Soegijapranata Semarang, Universitas Negeri Yogyarta, UIN Walisongo Semarang, IAIN Pekalongan, IAIN Salatiga, Universitas Bhayangkara Jakarta, Universitas Muria Kudus, Unnes Semarang, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, UIN Antasari Banjarmasin, Universitas Pancasila, UKI Jakarta, Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan, dan UKSW, sebagai tuan rumah.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Mahkamah Konstitusi, Prof. Dr. M. Guntur Hamzah, mengatakan kompetisi debat konstitusi ini merupakan yang kali kedua belas diselenggarakan. Selain di regional tengah, acara tersebut juga dihelat di regional barat dan timur. Pemenang dari masing-masing regional nantinya akan bertanding di tingkat nasional pada Agustus mendatang.

Disampaikan Prof. Guntur Hamzah, kegiatan ini antara lain bertujuan untuk menyosialisasikan perubahan UUD Tahun 1945 dan menumbuhkan kesadaran berkonstitusi, meningkatkan kemampuan mahasiswa mendalami dan memahami masalah-masalah Pancasila dan konstitusi, serta mendorong peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menjelaskan teks konstitusi  dengan perkembangan dan dinamika praktik ketatanegaraan masa kini.

“Kami juga berharap, kompetisi debat dapat mengembangkan budaya perbedaan pendapat secara konstruktif khususnya dalam memahami implementasi Pancasila dan perubahan UUD Tahun 1945,” ujar Guntur dalam keterangan resmi yang diterima Semarangpos.com, Rabu.

Selain kompetisi debat, dalam kesempatan itu juga digelar Seminar Nasional bertajuk Implikasi  Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Badan Peradilan Lain (Kontroversi Pencalonan Anggota DPD Berlatar Belakang Partai Politik. Seminar itu menghadirkan Hakim Mahkamah Agung, Dr. Irfan Fahruddin, sebagai narasumber dan juga Hakim Konstitusi RI Periode 2008-2018, Prof. Maria Farida Indrati,S.H.,M.H., serta Direktur Pusat Studi Hukum dan Teori Konstitusi Fakultas Hukum UKSW, Dr. Umbu Rauta, S.H., M.Hum.

Dalam seminar ini mengemuka kasus pencalonan salah satu Ketua Umum Partai Politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang sempat menjadi polemik panjang. Seminar dan diskusi mengalir hangat karena hadir dua pembicara yang merupakan perwakilan lembaga peradilan di mana dalam kasus tersebut MA dan MK memiliki putusan yang berbeda.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya