Museum Patiayam Sulit Berkembang, Ini Sebabnya...

Museum Patiayam Kudus, Jawa Tengah. (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
11 April 2019 15:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Museum Patiayam yang menampilkan temuan purbakala di Situs Patiayam, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dianggap sulit berkembang. Pemkab setempat berkilah ketersediaan lahan yang nantinya bisa digunakan untuk membangun museum yang lebih besar terhambat ketersediaan lahan yang dianggap terbatas.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Sutiyono di Kudus, Jateng, Rabu (10/4/2019), menyatakan ketersediaan lahan untuk membangun museum lebih besar menghambat sebagian besar koleksi fosil yang dimiliki bisa dipajang. "Ketika sudah memiliki lahan sendiri, tentunya untuk mengajukan bantuan anggaran ke pemerintah pusat lebih mudah karena sebelumnya Kudus juga mendapatkan tawaran dari pusat, namun terkendala kepemilikan lahan," katanya.

Meskipun upaya pengajuan permohonan dana untuk pengadaan lahan demi membuat museum yang lebih besar sudah diajukan sejak tahun 2013, katanya, untuk tahun depan akan kembali diusulkan. Kantor Berita Antara mengungkap Sutiyono seolah-olah berambisi menjadikan Situs Prasejarah Patiayam menjadi situs yang lebih baik lagi. "Mudah-mudahan tahun 2020 bisa dikembangkan menjadi situs yang lebih baik lagi," ujar Sutiyono yang dikutip Antara.

Situs dalam bahasa Indonesia adalah daerah penemuan benda-benda purbakala. Benda-benda purbakala yang ditemukan di suatu situs arkeologis mestinya tidak perlu ditambahkan atau dibikin menjadi lebih baik. Sedangkan museum adalah gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, termasuk peninggalan bersejarah yang rnilai arkeologis.

Ia berharap mendapatkan persetujuan karena sudah ada calon lahan yang bisa dibeli di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jateng sehingga koleksi fosil yang ditemukan bisa dipajang di museum. Ia beranggapan museum yang ada sekarang tidak bisa menampilkan semua koleksi karena ruangannya terlalu sempit.

"Pengunjung yang datang di Museum Patiayam yang ada sekarang memang mengeluhkan minimnya koleksi yang ditampilkan sehingga ada yang memaksa untuk melihat koleksi lain di lantai atas," ujarnya.

Hanya saja, kata dia, karena fosil hasil temuan yang disimpan digudang penyimpanan belum tertata dengan rapi sehingga belum bisa dikunjungi wisatawan. Ketika Kudus memiliki museum yang representatif, dia optimistis koleksi yang bisa ditampilkan jauh lebih banyak serta akan disertai dengan penataan lampu yang lebih menarik, seperti di Museum Sangiran.

Selain itu, kata dia, nantinya juga diperlukan bengkel untuk perawatan maupun perbaikan fosil agar hasil temuan di Situs Pati Ayam bisa dipajang di museum. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus juga mengusulkan Situs Patiayam sebagai kawasan Situs Patiayam kepada Pemerintah Provinsi Jateng, menyusul situs tersebut meliputi dua wilayah, yakni Kabupaten Kudus dan Pati.

Usulan tersebut, bertujuan agar keaslian kawasan situs akan tetap terpelihara karena dilindungi Undang-Undang. Berdasarkan data dari Museum Patiayam, jumlah fosil yang ditemukan di Situs Patiayam mencapai ribuan fosil yang mayoritas merupakan hasil temuan warga. Adapun koleksi fosil yang berhasil ditemukan di kawasan Situs Patiayam, yakni Stegodon Trigonochepalus (gajah purba), Elephas Sp (juga sejenis gajah purba), Ceruss Zwaani dan Cervus Lydekkeri Martin (sejenis rusa), dan Rhinoceros Sondaicus (badak).

Ditemukan pula Brachygnatus Dubois (babi), Felis Sp (macan), Bos Bubalus Palaeokarabau (sejenis kerbau), dan Bos Banteng alaeosondaicus, serta Crocodilus sp (buaya) serta kapak genggam atau chopper.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara