Tingkat Kekerasan Anak Tinggi, Dinsos Semarang Ajak Anak Jalanan dan Orang Tua ke Bioskop

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi dan Direktur Pendidikan Yayasan Anantaka, Tsaniatus Solihah, berfoto bersama anak-anak rentan turun ke jalan saat menyaksikan film di E-Cinema, E-Plaza, Sabtu (13/4 - 2019). (Semarangpos.com/Humas Yayasan Anantaka)
14 April 2019 16:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng) menggelar acara nonton (nobar) bareng bersama anak-anak yang berada dalam situasi rentan turun ke jalan. Sekitar 150 anak yang didampingi orang tuanya diajak menonton film Denias, Senandung di Atas Awan di E-Cinema, E-Plaza, Kota Semarang, Sabtu (13/4/2019).

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Dinsos Kota Semarang, Ayu Entys Wahyu Lestari, mengatakan acara nonton bareng bersama anak-anak yang rentan turun ke jalan itu sebagai salah satu program Wisata Edukasi yang diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk mengatasi tingginya tingkat kekerasan terhadap anak.

“Pemkot Semarang perlu memberikan pendampingan kepada keluarga rentan untuk mewujudkan pengasuhan ramah anak, sehingga anak nyaman berada di rumah dan tidak turun ke jalan. Kegiatan ini diharapkan bisa memberikan pengetahuan kepada orang tua untuk tidak melakukan kekerasan dalam pengasuhan sehari-hari,” ujar Ayu Entys.

Dinsos Kota Semarang mencatat masih banyak anak-anak di wilayahnya yang tidak mendapat pengasuhan secara layak. Mereka bahkan kerap menjadi korban kekerasan baik secara fisik, psikis, bahkan seksual di lingkungan keluarga.

Bahkan dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jateng pada 2018 ada sekitar 239 kasus kekerasan pada anak di Kota Semarang. Kekerasan itu meliputi fisik 74 kasus, psikis 86 kasus, dan seksual 79 kasus. Dari sekian banyak kasus itu, tak sedikit pelakunya merupakan orang terdekat.

“Sejak 2018, Dinsos Kota Semarang sudah mengembangkan program konseling individu untuk anak yang rentan turun ke jalan. Ada sekitar 50 anak yang diberikan konseling dan mereka semua mendapat kekerasan dari orang tua atau pengasuhnya. Sedangkan di 2019, ada sekitar 82 anak yang diberikan konseling dan 90% mendapat kekerasan baik di rumah atau sekolah,” imbuh Ayu Entys.

Direktur Pendidikan Yayasan Anantaka, Tsaniatus Solihah, mengatakan penyebab kekerasan pada anak terjadi karena beberapa faktor, mulai ekonomi, budaya yang sudah turun temurun, pendidikan, hingga kurangnya pengetahauan masyarakat tentang kekerasan itu.

“Mereka masih beranggapan memiliki hak sepenuhnya sebagai orang tua untuk memperlakukan anak sesuai keinginan, termasuk kekerasan,” ujar perempuan yang akrab disapa Ika Camelia itu.

Selain dihadiri anak-anak rentan turun ke jalan, acara nobar tersebut juga menghadirkan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang, Krisseptiana Hendrar Prihadi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya