Menenggok Kampung Anti-Money Politics di Semarang

Plt. Lurah Tembalang, Agustinus Kristiyono, dan Ketua RW 004 Jurang Belimbing, Supriyanto, menyiksakan pembuatan tempat pemungutan suara (TPS) di Balai RW 004 Kampung Jurang Belimbing, Kelurahan Tembalang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (15/4 - 2019). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
15 April 2019 16:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Money politics sangat marak pada masa kampanye Pemilu 2019. Aksi mencari dukungan dari para kontestan dengan imbalan uang itu kerap menyasar ke warga perkampungan. Namun di Semarang ada satu kampung yang warganya menyatakan tak menerima imbalan atau bantuan dari satu calon anggota legislatif (caleg) pun pada masa Pemilu 2019.

Kampung itu tak lain adalah Jurang Belimbing yang terletak di Kelurahan Tembalang, Kecamatan Tembalang. ”Sebenarnya banyak [caleg] yang menawarkan bantuan ke kampung ini. Bahkan ada yang menawari bantuan peralatan, seperti sound system. Tapi, oleh warga dengan tegas ditolak. Meskipun caleg itu merupakan warga sini,” ujar Ketua RW 004 Kampung Jurang Belimbing, Supriyanto, saat dijumpai Semarangpos.com, Senin (15/4/2019).

Saat Semarangpos.com berkunjung, Senin siang, kampung tersebut memang tampak bersih. Taka da spanduk maupun baliho caleg yang masih terpasang di pinggir jalan. Hal itu menandakan warga kampung itu sangat mentaati regulasi dari penyelenggara pemilu, baik KPU maupun Bawaslu terkait masa tenang, dengan mencabut spanduk maupun alat peraga kampanye (APK) lainnya.

Oleh karenanya tak salah jika Bawaslu Kota Semarang menjadikan kampung tersebut sebagai percontohan Kampung Anti-Money Politics, pada beberapa waktu lalu.

”Pola pikir warga di sini sudah berubah. Warga cenderung ingin menentukan pilihan tanpa ingin didekte. Apalagi, masyarakat di sini rata-rata ekonomi menengah. Jadi enggak mudah tergiur dengan janji maupun bantuan yang ditawarkan caleg," ujar Supriyanto.

Supriyanto menyebutkan kampungnya sangat dekat dengan lokasi pendidikan, kampus Universitas Diponegoro (Undip) Tembalang. Letak geografis itu pun membuat mayoritas warga memiliki usaha menyewakan indekos.

Total ada 200 KK dengan daftar pemilih tetap (DPT) mencapai 550 orang yang bermukim di kampung itu. “Jadi jangan coba-coba caleg masuk ke sini. Kalau ada pun harus siap-siap sakit hati karena ditolak, dengan cara halus,” imbuhnya.

Terpisah, Pelaksana tugas (Plt.) Lurah Tembalang, Agustinus Kristiyono, mengatakan selama ini warga Kampung Jurang Belimbing tidak hanya berinisiatif untuk menolak money politics. Mereka juga kerap melaporkan ke Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Tembalang jika ada caleg maupun tim sukses (timses) melakukan praktik money politics.

“Jadi memang ini inisiatif warga sendiri yang tidak mau diatur-atur oleh caleg tertentu. Mereka ingin bebas dan berpikir secara mandiri tanpa terikat dengan bantuan caleg,” imbuh Agustinus.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya