Lampaui Jatim, Indeks Pembangunan Manusia Jateng Masih di Bawah Nasional

Sejumlah pelajar berjalan kaki untuk kemudian berganti kendaraan menuju sekolah saat melewati jalan yang ambles di Desa Tenogo, Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (23/1 - 2019). (Antara/Harviyan Perdana Putra)
16 April 2019 02:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Tengah pada 2018 naik 0,6 poin menjadi 71,12 atau lebih tinggi ketimbang IPM Jateng tahun 2017, yakni 70,52. Angka itu melampaui IPM Jawa Timur, namun masih di bawah nasional.

Kepala BPS Jawa Tengah Sentot Bangun Widoyono mengatakan semenjak tahun 2017, status pembangunan manusia di Jawa Tengah sudah terkategori tinggi, yakni di atas 70. Padahal di antara tahun 2010-2016, IPM Jateng masih terkategori sedang atau di bawah 70 (60 ≤ IPM < 70).

"Selama periode 2017-2018, komponen pembentuk IPM juga mengalami peningkatan. Bayi yang baru lahir memiliki peluang hidup hingga 74,18 tahun, meningkat 0,10 tahun dibandingkan tahun 2017," kata Sentot, Senin (15/4/2019).

Kendati demikian, pada 2018, IPM Jawa Tengah masih tercatat BPS Jateng berada di bawah level nasional yang besarnya 71,39. Dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa, IPM Jawa Tengah hanya lebih unggul dibandingkan Jawa Timur yang pada tahun 2018 mencatatkan IPM 70,77.

Sentot memaparkan IPM tertinggi di Pulau Jawa masih ditempati oleh DKI Jakarta dengan nilai IPM 80,47. Sejak tahun 2017, status IPM DKI Jakarta telah berubah dari tinggi menjadi sangat tinggi. Posisi selanjutnya, DI Yogyakarta dengan IPM sebesar 79,53, disusul oleh Banten dengan IPM sebesar 71,95, Jawa Barat dengan IPM sebesar 71,30, dan kemudian Jawa Tengah di posisi kelima sebesar 71,12.

Selain itu, lanjut Sentot, anak-anak usia 7 tahun di Jawa Tengah memiliki peluang untuk bersekolah selama 12,63 tahun, meningkat 0,06 tahun dibandingkan tahun 2017. Sementara itu, penduduk usia 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 7,35 tahun [SMP Kelas 1], meningkat 0,08 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.

"Pengeluaran per kapita disesuaikan [harga konstan 2012] masyarakat telah mencapai 10,78 juta rupiah pada tahun 2018, meningkat Rp400.000 rupiah dibandingkan tahun sebelumnya," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis