Menristekdikti Ingin PMDK-PN Digabung dengan SNMPTN

Menristek M. Nasir saat menggelar jumpa pers di Polines, Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Selasa (16/4 - 2019). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
17 April 2019 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, berharap penerimaan mahasiswa baru politeknik melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan Politeknik Negeri (PMDK-PN) bisa digabung atau digelar secara bersamaan dengan penerimaan mahasiswa baru untuk perguruan tinggi reguler pada jalur Seleksi Nasional Mahasiwa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) bisa digabung.

Selain lebih efisian, pengabungan juga tidak akan memberikan pandangan berbeda antara mahasiswa politeknik negeri dengan perguruan tinggi negeri pada umumnya.

“Saya tidak ingin politeknik menjadi kelas dua atau pilihan kedua, tapi harus jadi pilihan utama. Lulusan untuk sains dan teknologi saat ini masih sangat kurang,” ujar Nasir saat menggelar jumpa pers di Politeknik Negeri Semarang (Polines), Selasa (16/4/2019).

Nasir menambahkan peminat politeknik negeri mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun ini jumlah pendaftar 42 politeknik negeri yang ada di Indonesia mencapai 206.852 siswa atau naik sekitar 12,5% dibanding tahun 2018 yang berjumlah 183.837 siswa. Sementara, jumlah pendaftar yang diterima sebagai mahasiswa tahun 2019 ini mencapai 16.666 atau naik sekitar 8,06% dibanding tahun 2018, yakni sekitar 13.733.

“Saya sudah minta dari 2017 agar seleksi [penerimaan mahasiswa politeknik dan PTN) menjadi satu. Tapi, karena sistem belum bisa digabung jadi belum bisa. Saya berharap tahun depan sudah bisa. Untuk ISI [Institut Seni Indonesia] sekarang saja sudah bisa digabung dalam SNMPTN, kok politeknik belum,” ujar Nasir.

Ia menjelaskan, belum bisa digabung seleksi penerimaan mahasiswa Politeknik karena masalah sinkronisasi data yang belum dibuat.  "Kesulitan sebenarnya tidak ada, ini tinggal kemauan dari para direktur politeknik. Ini mungkin yang belum sanggup adalah masalah sinkronisasi saja,” imbuh Nasir.

Lebih lanjut lagi, Nasir mengimbau kepada PTN untuk lebih aktif membuka peluang program studi [prodi] baru. Prodi baru itu haruslah benar-benar studi yang memberikan kesiapan mahasiswa dalam membuka lapangan kerja saat lulus nanti.

"Setiap universitas selalu saya suruh buat program studi yang dibutuhkan perusahaan. ini politeknik harus melihat industri, tenaga kerja yang dibutuhkan seperti apa," ucapnya.

Menurutnya, PTN jangan sampai kalah dengan universitas swasta yang berlomba-lomba membuka prodi baru. "Kita harus memberikan ilmu ke digital, contoh bisnis atau ekonomi kita buat e-Bisnis, atau e-Ekonomi. Kalau Prodi yang lama sudah tidak digunakan, maka ya harus diubah," jelas mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya