Temanggung Gelar 1.000 Tumpeng Awali Tanam Tembakau

Bupati Temanggung M. Al Khadziq. (Antara/Heru Suyitno)
20 April 2019 22:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, TEMANGGUNG — Pemerintah Kabupaten Temanggung akan menggelar 1.000 tumpeng di Alun-Alun Temanggung untuk menandai awal masa tanam tembakau 2019.  Rencana itu diungkapkan Bupati M. Al Khadziq di Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (18/4/2019).

Bupati Khadziq mengatakan kegiatan bernama Slametan Wiwit Bako Merti Bhumi Phala 2019 yang dijadwalkan pada 27 April 2019 itu akan dihadiri puluhan ribu petani tembakau dari seluruh wilayah Kabupaten Temanggung. "Kegiatan ini sering diadakan oleh masyarakat di desa-desa, tetapi kali ini kita pusatkan di Alun-Alun Temanggung," katanya seusai meninjau proses input data C1-plano di Komisi Pemilihan Umum Temanggung.

Ia menuturkan kegiatan ini akan dihadiri sekitar 20.000 petani tembakau dan sampai sekarang sudah terdaftar sekitar 2.000 tumpeng partisipasi dari masyarakat. "Mereka membawa tumpeng sendiri-sendiri beserta keluarganya, nanti kita berdoa bersama-sama di alun-alun dipimpin K.H. Hasyim Afandi," katanya.

Setelah doa bersama, katanya ada pentas seni dan makan tumpeng dan ingkung bersama-sama. "Kegiatan ini sebagai upaya kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar masa tanam tembakau 2019 dapat memberikan barokah yang sebesar-besarnya untuk seluruh masyarakat Temanggung," katanya.

Ia mengatakan latarbelakang kegiatan ini karena dalam beberapa tahun terakhir kondisi pertembakauan di Temanggung kurang menggembirakan. "Saya sudah komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat pertembakauan dan kesimpulan saya semua elemen itu harus duduk jadi satu, harus membangun tekat bersama-sama untuk memperbaiki kondisi pertembakauan di temanggung yang menurut saya sudah berlangsung akut," katanya.

Ia berharap semua pihak dapat meluruskan pada track yang benar sehingga kegiatan 27 April 2019 dimaksudkan sebagai upaya untuk menyatukan semua elemen pertembakauan agar bersama-sama membangun pertembakauan Temanggung yang lebih bersih, jujur, tidak saling potong, tidak saling merugikan. "Kalau saling merugikan yang benar-benar menjadi korban adalah petani," katanya. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara