Demi Menjaga Suara Pemilih, Pengawas TPS di Pekalongan Kehilangan Bayi

Ilustrasi pengawas tempat pemungutan suara (PTPS) di Kudus, Jateng. (Antara/Yusuf Nugroho)
23 April 2019 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Kisah pilu mewarnai perjalanan para pengawas pemilu di Jawa Tengah (Jateng). Demi mengawal pelaksanaan Pemilu 2019, tak sedikit dari mereka yang mengalami musibah.

Seperti yang dialami Siti Khuzaimah. Perempuan yang menjadi Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) 1 Desa Ketandan, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan itu harus rela kehilangan bayinya akibat kelelahan saat mengawal proses pemungutan suara, Rabu (17/4/2019).

Koordinator Divisi Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM) Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jateng, Sri Sumanta, membenarkan tragedi yang menimpa salah satu PTPS di Pekalongan itu. Ia menyebutkan saat proses pemungutan suara itu, Siti memang tengah dalam kondisi hamil tua.

“Nah, saat mengawal coblosan itu tiba-tiba ia mengalami kontraksi dan air ketubannya pecah. Dia lalu dilarikan ke rumah sakit dan harus menjalani persalinan,” ujar Sumanta saat dihubungi Semarangpos.com, Senin (22/4/2019).

Sumanta mengatakan dalam proses persalinan itu, Siti berhasil melahirkan bayi perempuan. Sayang, bayi perempuan itu tak mampu bertahan lama karena sehari berselang meninggal dunia.

“Mungkin karena bayinya prematur. Jadi lahir tanggal 17, tanggal 18-nya [Kamis] meninggal ,” ujar Sumanta.

Selain Siti, nasib hampir serupa juga dialami anggota Bawaslu Kabupaten Kudus, Eni Setyaningsih. Namun, Eni belum sempat melahirkan meski air ketubannya telah pecah. “Saat ini dia masih menjalani opname karena ketuban pecah. Usia kandungan 8 bulan,” imbuh mantan Ketua Panwaslu Kota Solo itu.

Sumanta menambahkan selama masa pemungutan suara setidaknya ada 93 pengawas di Jateng yang mengalami musibah, mulai dari kelelahan, sakit, kecelakaan lalu lintas, hingga meninggal dunia.

Total ada dua PTPS yang meninggal dunia, yakni Muchtarom yang bertugas di TPS 8 Desa Kalisemo, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, dan Suroso, yang bertugas di Desa Wironangan, Kecamatan Gatak, Sukoharjo.

Hingga kini, jajaran pengawas itu ada yang sudah pulih tapi ada pula yang masih dalam proses penyembuhan di rumah sakit.

“Kami sangat prihatin dan menyampaikan duka sedalam-dalammnya atas musibah yang menimpa para pengawas pemilu. Bawaslu juga mengapresiasi setinggi-tinggi atas kerja keras yang dilakukan jajaran pengawas. Semua tugas, fungsi, dan wewenang sudah dilakukan secara maksimal, itu semua demi menjaga suara pemilih agar pemilih berjalan fair, jujur, dan adil,” imbuh Sumanta.

Sumanta mengaku saat ini masih mendata para pengawas Pemilu 2019 yang tertimpa musibah saat menjalankan tugas. Data itu selanjutnya akan diserahkan ke Bawaslu RI untuk mendapatkan santunan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya