Terungkap, Ini Penyebab Kematian Puluhan Petugas KPPS di Jateng…

Ilustrasi petugas KPPS yang meninggal dunia di Kota Semarang. (Antara/Humas Pemprov Jateng/Wisnu Adhi Nugroho)
14 Mei 2019 20:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah (Jateng) menyebut mayoritas petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di wilayahnya yang meninggal dunia disebabkan karena mendapat tekanan yang berat saat menjalankan tugas selama pelaksanaan Pemilu 2019. Bahkan, beberapa orang di antaranya diduga meninggal akibat pembuluh darah pada otaknya pecah.

“Banyak petugas kami yang meninggal itu karena faktor tekanan masyarakat yang luar biasa. Hal itu menimbulkan kondisi psikis mereka tidak kuat, ditambah lagi kerja mereka yang memang berat, sehingga kelelahan, kena serangan jantung, dan paling banyak pembuluh darah pada bagian otaknya pecah,” ujar Anggota Divisi Data dan Informasi KPU Jateng, Paulus Widyantoro, kepada Semarangpos.com, Senin (13/5/2019).

Paulus menambahkan saat proses perekrutan, pihaknya sebenarnya telah meminta kepada calon anggota KPPS untuk melampirkan surat keterangan sehat jasmani dan rohani. Namun, pihak KPU tidak meminta mereka melakukan tes secara langsung karena memakan waktu dan biaya yang cukup tinggi.

“Dan yang jelas enggak cucuk sama honor yang kita alokasikan, yakni Rp550.000. Ongkos buat cek kesehatan lewat laboratorium kan butuh biaya yang tidak sedikit, yang tinggal di desa pasti enggak kuat bayarnya. Maka berdasar hal itu, kita akhirnya minta surat keterangan dari puskesmas saja sudah cukup,” ujarnya.

Tak cuma itu saja. Ia mengatakan tak bisa membendung antusiasme masyarakat untuk turut terlibat dalam kontestasi Pemilu 2019. Hal ini membuat KPU kewalahan dalam menerima pelamar sesuai batasan usia.

"Kita dalam merekrut KPPS usianya sudah diturunkan supaya mahasiswa-mahasiswa bisa ikut andil. Ternyata di lapangan fakta berbicara lain. Para tokoh masyarakat di desa kebanyakan jadi Ketua KPPS. Padahal mereka sudah berumur. Ya jadinya yang kita rekrut ya masih yang usia 45 tahun ke atas. Peran yang muda masih belum banyak," tuturnya.

Lebih jauh lagi, dengan mekanisme jumlah surat suara yang sangat banyak, Paulus mengakui bahwa penyelenggaraan Pemilu 2019 menguras energi.

Ia menganggap pola kerja Pemilu serentak kali ini sudah diluar batas kemampuan manusia karena setiap petugas di TPS bekerja tiga hari nonstop. Belum lagi ditambah perilaku masyarakat yang kritis dalam menyikapi hasil perolehan suara di masing-masing TPS.

Selain itu, ia juga berharap petugas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) maupun puskesma turut dilibatkan dalam menjaga kesehatan petugas KPPS. Cek kesehatan berkala ia anggap sangat perlu supaya tim medis dapat mengetahui gejala penyakit yang dirasakan oleh setiap petugas.

Selama Pemilu 2019, tambahnya petugas KPPS di Jateng yang ditemukan meninggal paling banyak berada di Semarang dengan tujuh orang. Sedangkan peringkat kedua berada di Banyumas, yakni empat orang.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya