Ke Masjid Kapal Semarang buat Ngabuburit, Bukan Tarawih atau Tadarus

Masjid kapal atau Masjid Safinatun Najah di Ngaliyan, Kota Semarang. (Bisnis/Alif Nazzala Rizqi)
17 Mei 2019 12:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Sebuah masjid yang berbentuk kapal Nabi Nuh di Jl. Kyai Padak RT 005/RW 005, Kelurahan Podorejo, Kota Semarang menjadi salah satu tempat favorit masyarakat untuk ngabuburit alias menunggu waktu berbuka puasa.

Dua tahun lalu, masjid kapal atau Masjid Safinatun Najah sempat viral di media sosial kerena keindahannya dan dari bentuk arsitektur kapalnya. Konon masjid ini dibangun karena terinspirasi dari bahtera Nabi Nuh. Tak hanya mirip sebuah kapal, bangunan ini lengkap dengan jendela berbentuk bulat berjumlah 74 , buritan, haluan yang terdiri dari tiga lantai.

“Wah bagus banget ya, mirip kapal,” kata Soepartini, salah seorang pengunjung yang datang untuk ngabuburit, beberapa waktu lalu.

Tanpa basa-basi, ia dan sanak keluarganya langsung mengambil smartphone dari dalam tas untuk mengabadikan moment bersama keluarga dengan latar belakang masjid kapal. “Kebetulan saya berkunjung ke tempat saudara di Semarang, sekalian saja mampir ke sini karena penasaran,” ucap pengunjung asal Ngawi ini.

Sekitar pukul 15.00 WIB, beberapa penjual makanan dan suvenir yang merupakan warga sekitar pun mulai berdatangan untuk mengisi pundi-pundi rejeki dari wisatawan yang datang. Maklum saja, semakin sore atau mendekati waktu Maghrib, masjid ini ramai orang ngabuburit, bahkan tak jarang pengunjung melakukan salat berjamaah di masjid tersebut.

“Semakin sore, nanti semakin ramai Mas. Apalagi kalau hari libur seperti saat ini,” kata Rokhimin salah seorang penjaga masjid kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Untuk memasuki gerbang masjid, kini sudah dikenakan tiket masuk. Tertulis Rp3.000, untuk tiket masuk, dan Rp2.000, untuk tiket parkir roda dua. Masjid kapal ini pun seolah menjadi destinasi wisata religi. 

Masjid kapal terdiri dari bangunan tiga lantai, dengan panjang kurang lebih 50 m dengan lebar 17 m dengan tinggi 14 m dan berdiri di lahan seluas 2.500 m2.  “Bangunan ini punya banyak fungsi, pada lantai pertama untuk ruang pertemuan dan kegiatan sosial lainnya, lantai kedua untuk masjid, dan lantai ketiga direncanakan untuk sebuah sekolah kejuruan dan balai kerja,” jelasnya.

Meski sudah berdiri kokoh, masjid ini hanya menjadi jujukan ngabuburit. Tidak ada salat tawarih, dan tadarus digelar di tempat ibadah ini. Alasannya, Masjid Safinatun Najah itu terletak jauh dari perkampungan. Masjid itu ada di tengah hutan dan persawahan, juga sudah ada masjid besar di kampung sebagai pusat kegiatan ibadah Ramadan.

“Saat ini fokusnya menjadi tempat kegiatan sosial, ada pengobatan gratis setiap minggunya. Beberapa waktu lalu  juga ada fashion show busana muslim dari Magelang disini,” ucapnya.

Bangunan masjid, lanjut dia, merupakan milik seorang ulama bernama Kiai Achmad. Tujuan pembangunan masjid itu, tidak hanya untuk tempat ibadah, melainkan punya banyak fungsi seperti bahtera Nuh yang memiliki banyak fungsi ruangannya. “Jadi sambil mengingat sejarah, untuk kembali mengajak mengingat Tuhan, dan dibuatlah masjid ini dengan fungsi bangunan lainnya di tiga lantai,” katanya.

Rokhimin menambahkan, pesan dari Kiai Achmad, masjid tersebut beserta bangunan lainnya bisa dimanfaatkan oleh warga secara gratis seperti untuk pertemuan, hajatan, dan resepsi pernikahan. “Masjid ini ada tiga lantai, lantai pertama untuk ruang pertemuan, bisa buat rapat, atau acara lain. Bahkan kata Pak Kiai, bisa untuk resepsi warga,” katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis