Bertapa di Puncak Songolikur Gunung Muria, Pulangnya Dievakuasi Tim SAR

Tim search and rescue melakukan evakuasi seorang petapa di Puncak Songolikur atau 29 Pegunungan Muria, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Minggu (2/6 - 2019). (Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif)
03 Juni 2019 10:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, JEPARA — Tim search and rescue (SAR) gabungan Kabupaten Jepara, Minggu (2/6/2019), mengevakuasi seorang petapa yang kodisinya lemas karena kurang perbekalan di Pengunungan Muria, di Puncak Songolikur Desa Tempur, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Menurut Kepala Pelaksana Harian BBPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto evakuasi itu dilakukan terhadap Nur Hasan, 35, warga Dukuh Jrakahsari, Desa Srikandang, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Langkah tanggap darurat itu dilakukan setelah diterima informasi dari warga, Sabtu (1/6/2019) pukul 15.00 WIB.

Disebutkan dalam informasi warga itu adanya seorang warga yang sedang menjalani tirakat untuk tinggal selama 40 hari di Pengunungan Muria, di Puncak Songolikur, Desa Tempur, Kecamatan Keling. Namun ia dalam kondisi lemas karena kurangnya bahan perbekalan dan logistik untuk kebutuhan sehari-hari.

Warga tersebut, diketahui berada di Puncak Songolikur sejak tiga pekan yang lalu. Sejumlah warga sekitar, katanya, sudah berupaya membujuk Nur Hasan untuk diajak turun, namun ia selalu menolak dan bersikeras untuk menyelesaikan tirakatnya tersebut. "Terakhir kondisi warga tersebut diketahui oleh seorang pendaki dan sukarelawan dari Kota Semarang yang melihat kondisinya lunglai dan kesehatan semakin menurun. Kemudian meminta bantuan BPBD Jepara dan sukarelawan gabungan untuk melakukan upaya evakuasi," ujarnya.

Sekitar pukul 16.00 WIB, Satgas Tim Reaksi Cepat dan BPBD Jepara bersama sukarelawan gabungan melakukan pergerakan ke Desa Tempur sebagai posko lapangan. Pada pukul 19.45 WIB, regu pertama mulai bergerak ke Puncak Songolikur dan pukul 21.00 WIB menemukan warga tersebut dalam kondisi lemas.

"Setelah dibangunkan, diberi makanan agar kondisinya membaik, dan diminta keterangan tentang identitas dan keluarga, serta melakukan upaya agar bersedia untuk turun gunung," ujarnya.

Pada pukul 22.30 WIB, regu kedua bersama tenaga medis menuju puncak dan bergabung dengan regu pertama, selanjutnya melakukan upaya evakuasi menuju posko lapangan di Balai Desa Tempur. Selanjutnya pukul 00.35 WIB, seluruh regu evakuasi dan pertapa tersebut sampai di posko lapangan, kemudian dilakukan pengecekan kondisi kesehatannya oleh dokter dari Puskesmas Keling 1.

Minggu dini hari, sekitar pukul 01.50 WIB, petapa itu dipertemukan dengan ibu kandung dan keluarganya yang dibawa oleh tim untuk menunggu di Puskesmas Keling 1. "Hasil observasi tim medis, warga tersebut seharusnya menjalani rawat inap, namun menolak, sehingga dikembalikan kepada keluarganya," ujarnya.

Ia optimistis keberadaan petugas yang biasanya menjadi pintu masuk ke lokasi Puncak 29 atau Songolikur itu bisa mendeteksi hal-hal yang berisiko sehingga informasinya bisa segera disampaikan kepada BPBD. Apalagi, kata dia, Desa Tempur sudah mengantongi status sebaga desa tangguh bencana dan memiliki sumber daya manusia yang memiliki keahlian dalam penanggulangan bencana dan struktur resmi oleh pemerintah desa.

Adapun tim evakuasi yang dilibatkan berjumlah 30 orang, meliputi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, PMI, SAR Jepara, Dinas Kesehatan, Relawan Destana Desa Tempur, Pemuda Pancasila Rescue, Pramuka Peduli Pring Kuning, Tagana Jepara, Banser PAC Keling dan Puskesmas Keling.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara