Jemaah Haji Jateng Kini Dikumpulkan 1 Maktab

Pelantikan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Embarkasi Solo di Sunan Hotel, Solo, Jateng, Jumat (14/6 - 2019). (Semarangpos.com/Humas Pemprov Jateng)
15 Juni 2019 04:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SOLO — Jemaah calon haji asal Jawa Tengah diklaim bakal menikmati berbagai kenyamanan selama menjalankan ibadah haji di Tanah Suci pada musim ibadah haji tahun 1440 H atau 2019 M ini. Klaim itu disampaikan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag, Prof. Nizar sebagaimana dikutip siaran pers Pemprov Jateng.

Jemaah calon haji asal Jateng akan dikumpulkan dalam satu maktab atau pemondokan di Jarwal yang jauhnya hanya sekitar 900 m dari Masjidil Haram. Mereka juga bakal menikmati kuliner khas daerah sejak pemberangkatan sampai dengan pemulangan.

Penempatan para calon haji asal Jateng dalam satu maktab itu diputuskan setelah Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag membuat sistem zonasi per wilayah untuk penentuan maktab. Pada musim haji sebelumnya, maktab diundi berdasar kelompok terbang (kloter).

"Selama ini kan yang banyak jadi persoalan jemaah adalah tersasar. Banyak sekali itu, dari Masjidil Haram mau pulang ke maktab tersasar, karena ketinggalan bus. Belum lagi kalau lupa dari maktab mana. Maka akhirnya diputuskan maktab dibagi zonasi per wilayah. Untuk Jawa Tengah maktabnya di Jarwal," paparnya dalam pelantikan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Embarkasi Solo di Sunan Hotel, Solo, Jawa Tengah, Jumat (14/6/2019).

Nizar sempat pula memamaprkan letak maktab Jarwal terbilang dekat dengan Masjidil Haram, yakni sekitar 900 m hingga 2 km. Artinya, simpul dia, bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Hal itu, sambung dia, tentu saja menjadi kesempatan emas bagi jemaah haji yang berasal dari Jateng agar bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk dan penuh kesabaran. "Di Jarwal ini juga ada hotel yang berkapasitas 16.000. Meskipun di wilayah Jarwal untuk hotel atau maktabnya sedikit tidak baru, dan agak sedikit minimalis," katanya.

Selain zonasi maktab, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji juga melakukan inovasi atas penyediaan konsumsi untuk para jemaah selama ibadah haji. Nizar mengatakan seluruh karya kuliner yang disajikan selama ibadah haji itu dipilih berdasarkan cita rasa nusantara.

Hidangan para jemaah akan berupa gudeg, pecel, rendang, sate, dan semacamnya.  "Ini untuk mengatasi jemaah kekurangan gizi. Karena kalau kita sediakan sajian khas Timur Tengah, lidah kita ini kurang cocok dan akhirnya para jemaah enggan makan. Tidak heran beberapa tahun lalu terjadi banyak jemaah kekurangan gizi, ya karena makanannya tidak cocok dengan lidah," katanya.

Pada ibadah haji tahun 2019 ini, katanya, dari total kuota 231.000 jemaah haji Indonesia, sekitar 30.000 berasal dari Jawa Tengah dan terkumpul dalam Embarkasi Solo. Secara keseluruhan, jemaah yang ditampung dalam 96 kloter itu akan menjalani dalam dua fase, fase pemberangkatan dan pemulangan.

Untuk fase pemberangkatan, akan ada dua gelombang. Gelombang pertama dilakukan pada 7 Juli 2019-19 Juli 2019, sedangkan gelombang kedua 20 Juli-5 Agustus. Sementara itu, untuk fase pemulangan, gelombang pertama melalui Jedah, 7-19 Agustus. Kedua, melalui Madinah, pada 30 Agustus-15 September.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merasa plong mendengar berbagai inovasi yang dilakukan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh itu. Persiapan pemondokan dan kuliner, menurut Ganjar bukanlah hal sepele karena menentukan kualitas hidup jamaah selama berada di Tanah Suci.

"Mendengar Inovasi tadi, saya ndlongop [ternganga] tadi. Negara kita ini sangat islami, apa yang tidak diurus? Ya wes ngene wae [Ya sudah begini saja]. Bertamu di Tanah Suci biar benar-benar bisa khusyuk. Minimal bisa membuat saudara kita ayem, bisa ngumpul. Ada kemantapan, suasana kearifan lokal yang membuat mereka nyaman sehingga ibadahnya tidak akan terganggu. Mudahkanlah saudara kita beribadah," katanya.

Ganjar lantas mengisahkan pengalaman pertamanya menjalankan ibadah haji. Dari sebelum pemberangkatan, diantar sanak saudara, hingga bagaimana rasanya menginjak Tanah Suci dan melihat wujud Kakbah untuk pertama kali seumur hidup.  "Getaran batinnya itu berbeda. Melihat Kakbah kita langsung gemetar dan langsung nangis. Semoga kita diberi kekuatan untuk memudahkan dan memperlancar saudara kita yang beribadah," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya