Sunan Kuning Bakal Ditutup, Begini Reaksi Para WPS…

Salah satu tempat hiburan malam karaoke di Sunan Kuning, Semarang, tampak lenggang menyusul isu penutupan kawasan prostitusi tersebut, Selasa (18/6 - 2019). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
18 Juni 2019 20:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berencana menutup Resosialisasi Argorejo atau yang lebih populer disebut lokalisasi Sunan Kuning pada 15 Agustus nanti. Meski demikian, rencana Pemkot Semarang itu rupanya belum sepenuhnya mendapat persetujuan dari para penghuni SK, baik para wanita pekerja seks (WPS) maupun muncikari.

Hal itu terungkat saat para WPS dan muncikari itu dikumpulkan di Balai RW 004 Jl. Argorejo Raya, Kampung Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Selasa (18/6/2019) siang. Dalam pertemuan yang juga dihadiri Kepala Satpol PP, Fajar Purwoto, dan pejabat Dinas Sosial (Dinsos) Semarang, itu para WPS mengaku saat ini sudah nyaman bekerja di SK.

“Jelas saya keberatan kalau Sunan Kuning ditutup. Takdir tidak bisa diubah, tapi nasib bisa. Hidup seperti ini siapa ya mau [menjadi PSK]? Kita terpaksa melakoni karena tak ada pilihan lain. Mau kerja di pabrik juga enggak punya ijazah. Lagian semua yang tinggal di sini masih punya banyak utang. Mau makan apa kita nanti kalau tempat ini ditutup,” ujar salah seorang WPS, Enny, saat dijumpai Semarangpos.com di sela pertemuan.

Perempuan asal Wonogiri itu mengaku saat ini masih memiliki tanggungan dua anak yang duduk di bangku sekolah dasar (SD). Dengan rata-rata penghasilan mencapai Rp7 juta per bulan sebagai WPS, Enny mengaku bisa menafkahi keluarganya di kampung.

“Saya punya dua anak. Satu tinggal di desa, satu di sini. Selama ini, saya menghidupi mereka dari bekerja di SK. Kalau SK ditutup, saya belum tahu mau ke mana?” ujar perempuan berusia 30 tahun itu.

Enny mengatakan uang tali asih yang diberikan Pemkot Semarang sebagai ganti rugi penutupan Sunan Kuning dinilai tidak cukup. Besarnya uang tali asih yang berkisar Rp5 juta itu sulit baginya untuk dijadikan modal usaha.

“Kalau cuma dikasih Rp5 juta enggak cukup. Saya minta disediain kios saja. Saya mau jualan warung makanan. Pemberian kompensasi harusnya fair. Kita juga manusia, masak tutup enggak memikirkan hidup kita bagaimana nantinya,” ujar perempuan yang sudah tingga di Sunan Kuning selama dua tahun terakhir itu.

Senada juga diungkapkan Riska. Ia mengaku resah dengan kebijakan Pemkot Semarang yang bakal menutup ladang usahanya pada Agustus nanti.

“Kalau ditutup saya kerja apa nanti? Pokoknya enggak setuju. Kalau mau ditutup jangan sekarang, tunggu kalau kita benar-benar siap,” ujar perempuan yang mengaku memiliki dua anak yang masih kecil-kecil itu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya