Penenun Troso Bertekad Revisi Rekor di Muri

Pengrajin menenun benang menjadi kain di Desa Troso, Kabupaten Jepara. (Antara/Achmad Zaenal M)
24 Juni 2019 22:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, JEPARA — Sebanyak 1.500 penenun Desa Troso, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah bakal unjuk keterampilan merajut benang menjadi kain tenun dalam Troso Festival 2019 yang digelar pada pertengahan Juli 2019. Mereka menargetkan pemecahan rekor baru atas nama mereka sendiri.

Ketua Panitia Troso Festival 2019 Nasta'in ketika ditemui di Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Jumat (21/6/2019), menjelaskan ajang yang digelar pada 13 Juli 2019 tersebut bakal dicatat sebagai rekor oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). "Sebanyak 75 hingga 100 alat tenun bukan mesin (ATBM) akan dikerahkan di satu lokasi untuk event tersebut," katanya.

Karena keterbatasan lokasi dan alat, pergelaran tenun massal tersebut akan dilakukan secara bergantian namun tetap dilakukan pada hari yang sama. Tahun sebelumnya, rekor Muri juga ditorehkan dengan menenun kain sepanjang 217,4 m tanpa sambungan dalam 20 motif. "Kami ingin tenun Troso lebih dikenal dunia. Hasil dari festival-festival sebelumnya sudah mulai terasa," ujar Nastain yang juga Ketua Kelompok Sadar Wisata Troso tersebut.

Selain menenun massal, Troso Festival 2019 juga menggelar beragam kegiatan, misalnya, kitab kain tenun motif khas Troso, ekspo UMKM, pemilihan duta wisata, hingga lomba fashion show bertema tenun. Festival ini akan berlangsung pada 12-14 Juli 2019.

Produk tenun Troso selain merambah ke pasar domestik, seperti Bali, Jakarta, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, juga mulai diekspor ke beberapa negara. "Bali merupakan salah satu pasar terbesar tenun Troso, namun belakangan kami juga menerima pesanan dari Singapura," ujar Nastain yang juga eksportir mebel tersebut.

Saat ini di Desa Trosoini terdapay sekitar 700 pengrajin, jauh menurun dibandingkan dengan lima tahun lalu yang mencapai sekitar 1.300 pengrajin. "Kehadiran industri penanaman modal asing [PMA] menyebabkan banyak tenaga kerja beralih menjadi pegawai pabrik milik PMA," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara