Embun Upas Dieng Jadi Daya Tarik Wisatawan

Wisatawan menunjukkan embun yang membeku di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jateng, Selasa (25/6 - 2019). (Semarangpos.com/UPT Pariwisata Dieng)
26 Juni 2019 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Fenomena embun beku atau bun upas alias embun upas di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng) menjadi daya tarik bagi wisatawan. Akibat turunnya embun beku itu, wisatawan di Dieng diklaim mengalami lonjakan dibanding hari biasa.

Hal itu disampaikan Kepala UPT Pariwisata Dieng, Aryadi Darwanto. Arya mengaku banyak wisatawan yang berkunjung ke Dieng saat musim dingin seperti saat ini hanya untuk menyaksikan munculnya bun upas.

“Dari sisi pariwisata tentu itu [bun upas] jadi daya tarik. Banyak yang datang dari berbagai daerah hanya untuk menyaksikan fenomena tersebut. Bahkan ada yang rela menunggu berhari-hari,” ujar Aryadi saat dihubungi Semarangpos.com, Selasa (25/6/2019).

Aryadi mengatakan embun es kerap terjadi saat peralihan musim kemarau. Saat bun upas itu muncul suhu udara di Dieng bisa mencapai di bawah nol derajat.

“Embun beku biasanya muncul di kawasan Candi Arjuna. Tadi pagi muncul lagi pada suhu minus enam derajat celcius,” imbuhnya.

Arya mengatakan sepanjang 2019 ini sudah 12 kali embun upas muncul di Dieng. Bahkan, dalam pekan ini bun upas sudah muncul sebanyak dua kali, yakni Selasa dan Senin (24/6/2019) saat suhu udara berada di angka minus 9 derajat celcius.

Menurut Arya, kemunculan bun upas saat pagi hari biasanya ditandai dengan cuaca yang cerah saat sore hingga malam hari sebelumnya. Suhu pada malam hari akan terasa dingin, kemudian muncul kabut tebal dan di pagi hari suhu berada di bawah 0 derajat celcius.

"Tidak setiap hari embun es muncul di musim kemarau,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Dieng Kulon, Slamet, mengatakan embun beku saat ini sudah sampai di kawasan lahan pertanian kentang milik warga. Embun beku itu kerap dijuluki bun upas yang artinya embun beracun lantaran sering membunuh tanaman kentang warga.

Slamet menuturkan bun upas akan mematikan tanaman kentang yang masih muda serta sayuran lainnya. Setiap tahun, fenomena bun upas menjadi momok bagi para petani.

“Jika dihitung sudah ada satu hektare kebun yang terkena bun upas,” ujar Slamet.

Untuk mengantisipasi bun upas, lanjut Slamet, warga kerap menyelimuti tanaman dengan kantong plastik atau bambu.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya