Harga Ayam Potong Anjlok, 77% Peternak di Semarang Gulung Tikar

Ilustrasi harga ayam murah. (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)
27 Juni 2019 08:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Kisruh harga ayam potong atau broiler berimbas pada banyaknya peternak yang merugi. Banyak peternak yang gulung tikar atau bangkrut, termasuk di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, W.P. Rusdiana, menyebut saat ini jumlah peternak ayam di wilayahnya menurun drastis. Jika sebelumnya jumlah peternak bisa mencapai 45, kini setelah ada kisruh harga hanya tinggal 10 orang yang bertahan atau berkurang sekitar 77%.

“Paling banyak peternakan ayam di Semarang itu ada di Jatirejo, Gunungpati. Dulu jumlahnya bisa mencapai 45 orang, sekarang tinggal 10-15 peternak. Banyakan pada ambil dari Boja [Kendal] dan Mranggen [Demak],” ujar Rusdiana kepada Semarangpos.com saat aksi bagi-bagi ayam gratis di Kelurahan Gayamsari, Kota Semarang, Rabu (26/6/2019).

Rusdiana menilai kisruhnya harga ayam broiler selama ini diduga karena ulah oknum pengepul. Hal itu dikarenakan terdapat perbandingan yang masih tinggi antara harga di tingkat peternak dengan di pasaran.

Di pasaran, harga ayam potong per kilogram (kg) berada di angka Rp28.000-Rp30.000. Namun, harga di tingkat peternak justru sangat rendah, sekitar Rp5.000-Rp6.000 per kg. Padahal harga pokok penjualan (HPP) yang harus dikeluarkan peternak mencapai Rp15.000 per kg.

“Saat kami konfirmasi ke Disperindag [Dinas Perindustrian dan Perdagangan, katanya jumlah produksi memang terlalu banyak [oversupply]. Tapi, kalau dilihat dari alur perubahan harga yang turun drastis di tingkat peternak, saya rasa ada beberapa oknum yang bermain harga di tingkat pengepul,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang peternak, Yudi Ahmad Azhadi, dari PT Mustika Jaya Lestari, menilai kisruhnya harga ayam broiler terjadi karena oversupply. Ia menduga salah satu faktor oversupply itu dikarenakan adanya kelebihan stok bibit indukan (grand parent stock] di tingkat peternak.

“Dari Direktorat Perbibitan [Kementerian Pertanian] salah melakukan estimasi. Sehingga, GPS [grand parent stock] yang beredar lebih dari perkiraan. Alhasil, kelebihan stok dan merugikan peternak,” ujar Yudi.

Yudi mengaku kerugian yang dialami peternak sebenarnya sudah terjadi sejak awal 2019. Namun, kondisi itu membaik menjelang Lebaran.

“Nah, pasca-Lebaran ini harganya kembali anjlok. Banyak teman yang merugi, bahkan gulung tikar,” imbuhnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya