Demi Ekonomi Tumbuh 7%, Jateng Percepat Proyek Infrastruktur

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jateng, Rabu (1/5 - 2019). (Antara/Sumarwoto)
03 Juli 2019 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) mendorong percepatan pembangunan sejumlah proyek infrastruktur jalan. Hal itu dilakukan demi mewujudkan target pertumbuhan ekonomi Jateng menjadi 7% pada tahun ini.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengatakan ada sejumlah proyek infrastruktur jalan di Jateng yang pembangunannya harus segera dilaksanakan. Salah satunya, yakni jalan lingkar selatan selatan (JLSS) sepanjang 46,07 kilometer (km).

JLSS memiliki total panjang 211,95 km. Untuk pembangunan jalan yang belum tertangani, diusulkan agar dibiaya APBN karena pembebasan lahan membutuhkan biaya mencapai Rp1,17 triliun dan konstruksi sekitar Rp1,1 triliun.

“Selain itu, juga percepatan pembangunan jalan tol Solo-Jogja, tol Bawen-Jogja, tol tanggul laut Semarang-Demak. Kita sudah siapkan secara detail, faktor yang bisa mendorong pertumbuhan. Sudah ada stretegi yang disiapkan dan pekerjaan yang disiapkan,” ujar Ganjar di ruang kerjanya, Selasa (2/7/2019).

Percepatan pembangunan infrastruktur itu diharapkan dapat memacu  pertumbuhan ekonomi di Jateng dari 5,3% menjadi 7%. Beragam bidang yang dipercepat itu pun sudah dibicarakan dengan kementerian terkait dan akan disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Misalnya, untuk percepatan jalan tol Solo-Jogja dibutuhkan Rp22,50 triliun, tol Bawen-Jogja Rp13,69 triliun, percepatam realisasi jalan tol tanggul laut Semarang-Demak Rp15,40 triliun. Kemudian pemenuhan air baku untuk air minum melalui program SPAM yang sudah lama direncanakan, harus dipercepat. Lalu, kebutuhan air untuk industri.

Dalam perkeretaapian, menurut Ganjar, Jateng memiliki jalur yang melingkar yang bisa mendukung jalur transportasi penumpang dan bahan bakar gas untuk industri. Karena, kawasan industri yang akan dibuka, tidak hanya di tengah, tetapi juga di sisi selatan.

"Ada investasi pembangunan industri baja senilai USD2,54 miliar atau Rp35 triliun, Tapi, kebijakannya belum seragam antara provinsi dengan pusat. Untuk itu, kita butuh dukungan dari pusat. Dengan berdirinya industri itu, bisa membantu memenuhi kebutuhan baja nasional," jelasnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya