Ganjar Pranowo: Zonasi Solusi Penyamarataan Pendidikan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberikan keterangan terkait Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kota Semarang, Jateng, Senin (8/7 - 2019). (Bisnis/Alif Nazzala Rizqi)
17 Juli 2019 04:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menyambut siswa baru sekolah menengah atas (SMA) yang kali pertama masuk sekolah mengatakan penerapan sistem zonasi dalam penerimaan siswa SMA merupakan upaya penyamarataan pendidikan bagi anak.

Saat meninjau hari pertama masuk sekolah di SMAN 1 Semarang, ia melontarkan harapan wali murid dan guru berkolaborasi memoles potensi siswa. Nilai ulangan bukanlah acuan dasar untuk pelabelan kecerdasan siswa.

"Tidak ada anak bodoh, tapi mungkin dia berbakat di bidang lain. Anak-anak mungkin tidak pintar di soal akademis, tapi dia pintar di seni, olahraga, dan sesuatu yang kreatif lainnya. Di SMAN 1 Semarang ini varian nilainya banyak," kata Ganjar.

Ganjar memastikan bahwa semua murid yang lolos masuk di SMA negeri, seperti SMAN 1 misalnya, masuk dengan perasaan gembira. Kemampuan mereka yang beragam membuka kesempatan untuk belajar berkolaborasi.

"SMAN 1 Semarang ini menarik karena ada yang nilainya 17 dan bisa masuk, mereka bergabung dengan teman-teman lain dan ada diskusi. Itu nanti guru akan jadi fasilitator, kita ajarkan mulai dari sekarang bahwa kelas itu menyenangkan. Kalian punya hak belajar yang sama dan kalian harus saling membantu," katanya.

Di SMAN 1 Semarang, total yang diterima sebanyak 432 siswa. Zonasi seleksi jarak meloloskan 259 siswa. Sedangkan, siswa yang masuk menggunakan zonasi seleksi prestasi 86 siswa. Sementara itu yang menggunakan jalur prestasi sebanyak 78 dari kuota 65. Yang pindah tugas orangtua dari kuota 22, hanya terisi sembilan siswa.

Salah seorang siswa yang menggunakan jalur prestasi di luar zonasi adalah Jovan Fernando Putra Wiyono asal Lingkungan Kolang Kaling RT 002/RW 002, Wujil, Bergas, Kabupaten Semarang. Dia atlet wushu yang telah meraih medali emas di tingkat nasional dan pernah berlaga di kejuaraan dunia di Brasil.

"Dia telah berlatih sejak SD. Medali pertama yang dia raih saat kelas I SMP, meraih medali emas di tingkat provinsi," kata Joko Wiyono, orangtua Jovan.

Dia merasa bersyukur anaknya bisa masuk ke SMAN 1 Semarang. Padahal jika menilik nilai evaluasi akhir (NEM) SMP, nilai putranya hanya 19. Dia pun sadar, sistem zonasi ini merupakan yang terbaik untuk pemerataan pendidikan.

"Kalau begini kan anak-anak bisa terpacu karena kemampuannya beragam. Kalau kumpul hanya satu kemampuan, yang bodoh semua, ya kapan anak-anak bisa pintar," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis