ASEAN School Games: Sulit Dijumpai, Si Warak Diburu Pelajar Luar Negeri

Seorang pengunjung membeli suvenir maskot ASEAN School Games (ASG) 2019, Si Warak, di kompleks GOR UIN Walisongo, Kota Semarang, Selasa (23/7 - 2019). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
24 Juli 2019 18:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — ‎Setiap penyelenggaraan event olahraga multi cabang tingkat dunia pasti selalu menghadirkan sebuah maskot. Pun demikian dengan event ASEAN School Games (ASG) 2019 di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), 18-25 Juli itu.

Event yang mempertemukan atlet pelajar dari 10 negara anggota ASEAN itu menghadirkan Si Warak sebagai maskot. Si Warak merupakan binatang mitos yang terbentuk dari akulturasi budaya yang ada di Kota Semarang, yakni China, Jawa, dan Arab. Bentuknya hampir mirip dengan mahkluk mitologis Qilin, yang terdapat dalam legenda-legenda negeri Tiongkok.

Boneka Si Warak ini pun kerap diberikan kepada para atlet yang berprestasi dalam ASG 2019 saat pengalungan medali. Namun, bagi yang tidak meraih ‎medali tentunya juga ingin memiliki boneka Si Warak sebagai suvenir atau buah tangan bagi sanak keluarga di kampung halaman.

Mereka pun bisa membeli dari para pedagang suvenir yang tersebar di lokasi pertandingan. Sayang, pada ASG 2019 sangat jarang penjual suvenir yang menjual boneka Si Warak.

Pantauan Semarangpos.com di beberapa venue ASG 2019, penjual boneka Si Warak sangat sulit dijumpai.Hanya ada beberapa penjual boneka Si Warak di lokasi pertandingan, seperti Stadion Tri Lomba Juang dan GOR Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, tempat berlangsungnya pertandingan bola voli.

Salah seorang penjual boneka Si Warak, Iwan, 42, membenarkan jika dalam event ASG kali ini memang tidak banyak yang menjual boneka maskot tersebut.

"Iya memang enggak banyak yang jualan boneka maskot. Sepertinya cuma kami berempat yang menjual," ujar Iwan asal Bandung kepada Semarangpos.com di GOR UIN Walisongo, Selasa.

Iwan menuturkan ia bersama ketiga kawannya menjual boneka Si Warak di dua lokasi, yakni Stadion Tri Lomba Juang dan GOR UIN Walisanga. Boneka itu dibawa dari Bandung sekitar 300 buah dan dijual dengan harga Rp55.000-Rp100.000 per biji.

Iwan mengatakan selama ASG berlangsung hanya mampu menjual sekitar 130 boneka. Itu pun pembeli kebanyakan merupakan atlet dari luar negeri, seperti Singapura, Myanmar, dan Filipina.

"[Pembeli] paling banyak dari Filipina. Kami jual ke mereka Rp100.000. Kalau yang dari Indonesia pintar nawar. Kadang ditawar sampai Rp55.000, padahal dari produsennya kita beli Rp50.000. Ya udah kami kasih daripada enggak laku," ujarnya.

Iwan menambahkan boneka Si Warak yang dijualnya sedikit berbeda dengan suvenir asli ASG. Perbedaan terelak pada tanduk yang ada di bagian belakang kuping dan juga moncong yang lebih pendek.

Perbedaan itu dikarenakan adanya kesepakatan dengan panitia penyelenggara. Pihak panitia mengizinkan boneka maskot ASG diperbanyak asalkan sedikit dibedakan dengan yang asli atau suvenir resmi.

Asian Games

Entis, penjual suvenir menunjukkan boneka maskot ASEAN School Games di kompleks kompleks GOR UIN Walisongo, Kota Semarang, Selasa (23/7/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Entis, 54, penjual lainnya mengaku rezeki di ASG beda dengan Asian Games. Meski demikian, ia merasa maklum karena event di Semarang hanya bertaraf Asia Tenggara dan untuk pelajar.

"Kemarin pas Asian Games bisa laku 250.000 boneka. Sekarang jual 200 sulit. Tapi mungkin karena pesertanya enggak sebanyak Asian Games," tuturnya.

Sementara itu, Intan Zainuri, warga Manyaran, mengaku selama penyelenggaraan ASG 2019 memang mencari boneka maskot. Itu dilakukan sebagai kenang-kenangan jika event pelajar se-ASEAN itu pernah digelar di Semarang. "Dari kemarin mencari enggak dapat-dapat. Baru nemu di UIN Walisongo ini. Ini saya beli Rp70.000," ujar Intan.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya