Ruwat Rambut Gimbal Hebohkan Alun-Alun Wonosobo

Tradisi cukur rambut gembel memeriahkan peringatan Hari Jadi ke-194 Kabupaten Wonosobo di Alun-Alun Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (27/7 - 2019). (Bisnis/Istimewa)
27 Juli 2019 12:50 WIB Alif Nazzala Rizqi Semarang Share :

Semarangpos.com, WONOSOBO — Tradisi potong rambut gimbal digelar di Alun-Alun Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu (27/7/2019). Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dibikin terkejut dengan permintaan anak-anak berambut gimbal yang mengikuti tradisi Ruwat Rambut Gimbal itu.

Saat ditanya tentang syarat pemotongan rambut gimbalnya oleh Gubernur Ganjar Pranowo, anak-anak berambut gimbal asal Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah tersebut menyampaikan permintaan yang aneh-aneh. Permintaan seperti laptop, sepeda, gelang, kalung, boneka dan sebagainya mungkin sudah biasa. Namun yang membuat Ganjar terkejut, ada anak yang meminta terasi dan bayam sebagai syarat pemotongan rambutnya. Ada pula yang meminta klepon, jajanan pasar sebanyak tiga tampah.

Santika Aprilia Putri, 4, misalnya, warga Tumenggungan, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah misalnya meminta syarat kepada orang tuanya berupa terasi dan bayam. Saat ditanya Ganjar, April mengaku memang suka dengan terasi.

"Terasi? Kenapa minta terasi? Kamu memang suka terasi ya?" tanya Ganjar sambil mengelus rambut kriwil April.

"Iya pak, rasanya asin, tapi enak," kata April polos.

Ada 12 anak berambut gimbal yang mengikuti prosesi ruwatan potong rambut gimbal tersebut. Dengan telaten, Ganjar menyapa dan menanyai permintaan mereka satu per satu.

Selain April yang meminta terasi, ada pula permintaan unik dari anak bernama Aufa Hawatus Sya'diah. Kepada Ganjar, Aufa mengatakan meminta klepon sebanyak tiga tampah. "Saya minta klepon pak, tiga tampah," kata Aufa disambut tawa semua masyarakat.

Saat prosesi pemotongan berlangsung, Ganjar Pranowo juga ikut memotong rambut peserta ruwatan. Dengan hati-hati dan bimbingan sesepuh, Ganjar memangkas rambut gimbal dan meletakkannya di sebuah kendi. Setelah memotong rambut anak-anak itu, Gubernur Jateng memberikan hadiah yang menjadi syarat permintaan si anak. Bahkan, ketika ada anak yang meminta kalung, Ganjar memakaikan sendiri kalung itu kepada si anak.

"Ini tradisi yang menarik, setiap prosesi pemotongan rambut gimbal ini, selalu menjadi pertunjukan dan atraksi budaya yang luar biasa. Masyarakat selalu berduyun-duyun untuk menyaksikan, dan ini bisa menjadi daya tarik wisata yang bisa dikembangkan," kata Ganjar.

Menurut Ganjar, atraksi budaya ini memiliki cerita yang sangat menarik. Ada anak yang berambut gimbal, dimana saat dipotong rambutnya, keinginan si anak harus dipenuhi. "Tadi permintaannya aneh-aneh, ada laptop, sepeda, boneka, terasi, bahkan klepon tiga tampah. Cerita-cerita ini dapat dikemas untuk menjadi magnet wisatawan. Pasti akan banyak orang datang, apalagi jika prosesi dikemas dengan atraksi pertunjukan lain seperti tari dan kesenian lainnya," kata Ganjar melalui siaran persnya.

Atraksi-atraksi budaya lanjut Ganjar perlu ditingkatkan di Jawa Tengah. Menurutnya, dengan atraksi-atraksi budaya semacam itu, upaya pemerintah meningkatkan kunjungan wisata akan tercapai. "Kami memang sedang konsen menggarap pariwisata. Di Jateng ada empat tempat yang menjadi prioritas, yakni Dieng, Borobudur, Karimunjawa, dan Sangiran. Saya harap ide dan kreativitas masyarakat di daerah-daerah itu serta daerah lain terus bermunculan," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis