Didaftarkan ke UNESCO, Segala tentang Tempe Dibahas di Seminar UKSW

Salah satu stan memperlihatkan kuliner olahan tempe saat seminar nasional di Balairung UKSW Salatiga, Sabtu (27/7 - 2019). (Semarangpos.com/UKSW Salatiga)
29 Juli 2019 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Tempe saat ini tengah didaftarkan ke United Nations Educational, Scientifi and Cultural Organization (UNESCO) agar mendapat pengakuan dunia sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

Hal itu terungkap dalam seminar nasional yang digelar Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dengan mengambil tema Tempe Sebagai Warisan Budaya Indonesia di Balailrung Universitas, Sabtu (27/7/2019). 

Dekan Fakultas Biologi UKSW Salatiga, Dra. Lusiawati Dewi, mengatakan tempe merupakan salah satu panganan fungsional sekaligus fermentasi asli Indonesia. Hal itulah yang menjadi alasan kenapa tempe harus mendapat pengakuan dunia sebagai salah satu warisan budaya Indonesia ke UNESCO.

“Dalam proses itu FTI membutuhkan dukungan seluruh masyarakat Indonesia. Kegiatan yang didukung oleh FTI, U.S. Soybean Export Council, serta Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia kali ini tidak terbatas pada seminar, namun juga mengandung harapan agar kedepan masyarakat lebih peduli pada tempe yang merupakan warisan budaya nenek moyang kita,” jelas Lusiawati dalam keterangan resmi.

Senada disampaikan Ketua FTI, Prof. Dr. Ir. Made Astawan, yang menilai perlu adanya dukungan dari berbagai pihak agar tempe diakui sebagai makanan asli Indonesia. Sekjen Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia (PERGIZI) tersebut memohon doa dan dukungan sehingga pada tahun 2023 apa yang diperjuangkan FTI dapat terwujud.

“Kita harus bangga, tempe jadi wakil di dunia sebagai salah satu makanan yang diakui khasiatnya. Bahkan tempe sangat dikenal di 27 negara dan terus menjadi topik penelitian,” tegasnya.

Made menjelaskan tempe memiliki khasiat mengobati berbagai macam penyakit. Di dalam sebutir kedelai terdapat kandungan asam amino esensial dan vitamin B12 yang baik bagi tubuh. Kedelai sebagai bahan baku tempe memiliki kandungan isoflavon yang berfungsi sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas, sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit degeneratif.

“Isoflavon membantu mengurangi resiko kanker payudara dan prostat serta mengurangi kadar kolesterol. Tidak hanya mengandung isoflavon sebagai kandungan gizi utama, tempe juga memiliki serat pangan yang sangat baik. Serat pangan ini mudah dicerna dan diserap oleh tubuh sehingga bermanfaat bagi kesehatan usus,” ujarnya.

Selain Made Astawan, turut hadir sebagai narasumber lainnya yaitu Dr. Dady Maskar (Sekjen FTI), Ir. Ibnu Eddy MM. (Sekjen USSEC), serta Dr. Tri Widiarto,  M.Pd. (Ketua Pusat Studi Bahasa Jawa, UKSW).

Dr. Dady Maskar mengatakan tempe sudah dikenal sejak abad ke-18, terbukti dengan ditemukannya kata kata tempe dalam manuskrip Serat Centini Jilid III. Dijelaskannya, saat ini Indonesia tercatat sebagai negara produsen tempe terbesar di dunia, sekaligus menjadi pasar kedelai terbesar di Asia.

“Mimpi besar FTI berikutnya adalah menjadikan tempe sebagai World Intangible Heritage for Humanity, sebagaimana pengakuan dunia terhadap batik. FTI sendiri, sedang mempersiapkan berbagai dokumen untuk mewujudkan mimpi tersebut,” tandasnya.

Selain seminar, kegiatan ini turut dirangkai dengan pelantikan pengurus FTI Jateng, Dr. Dra. Siti Harnina Bintari, M.S. dari Fakultas Biologi UNNES didapuk sebagai ketua untuk masa bakti 2019-2023. Sementara itu Dra. Lusiawati Dewi terpilih sebagai sekretaris.

Untuk memeriahkan acara, digelar pula lomba Membuat Makanan Berbasis Tempe. Sedikitnya tiga puluh makanan olahan berbahan baku tempe dipamerkan oleh sejumlah peserta dari SMA Widya Wacana Solo, SMA Tri Tunggal Semarang, mahasiswa FKIP dan FKIK UKSW serta masyarakat umum.

Beberapa olahan tempe yang dipamerkan antara lain brownies, cookies, sushi, schotel, muffin, sate, bakso, puding, burger, hingga gelato.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya