Menguak Misteri Pohon Asam Pasar Peterongan Semarang

Pohon asam di depan Pasar Peterongan, Jl. M.T. Haryono, Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Pohon ini diyakini sakral hingga kerap didatangi peziarah. (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
31 Juli 2019 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pohon asam yang diperkirakan berusia ratusan tahun itu berdiri kukuh di depan Pasar Peterongan, Jl, M.T. Haryono, Kota Semarang.

Rantingnya dibiarkan tumbuh menjalar meski mengenai beberapa bagian bangunan pasar. Tak ada yang berani memotong ranting pohon asam yang konon sudah ada sebelum pasar tersebut berdiri pada 1916.

Cokro, juru kunci pohon asam Pasar Peterongan menuturkan konon pohon asam itu merupakan peninggalan sesepuh kawasan tersebut yang bernama Mbah Gosang. Kesakralan pohon asam itu pun sudah terdengar secara turun temurun hingga menjadi tempat berziarah dengan menggelar berbagai sesaji.

“Memang pohon asam ini dikenal keramat. Saking keramatnya bahkan tidak ada yang berani memotong [ranting]. Konon dulu pernah ada yang memotong rantingnya dan tiba-tiba jatuh sakit hingga meninggal,” ujar Cokro saat dijumpai Semarangpos.com, beberapa waktu lalu.

Cokro menambahkan sejak kejadian itu tidak ada yang berani memotong ranting pohon asam di depan Pasar Peterongan itu. Hingga akhirnya dibuat sayembara oleh tokoh masyarakat di kawasan tersebut dengan imbalan dijadikan pejabat dan dibuatkan kantor di Pasar Peterongan.

“Ada yang berhasil, kemudian dibuatkan kantor di pasar. Cerita itu sudah ada sejak lama dan masih dipercaya hingga sekarang,” imbuh Cokro.

Tempat sesaji yang biasa digunakan peziarah pohon asam di Pasar Peterongan. (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Kekeramatan pohon asam di Pasar Peterongan itu pun membuat banyak orang yang berdatangan untuk berziarah. Mereka bermaksud ngalap atau mencari berkah dengan mendatangi pohon tersebut sambil membawa sesaji.

Cokro mengaku kebiasaan warga menggelar sesaji di pohon asam itu hingga kini masih bisa dijumpai, terutama pada malam Jumat kliwon atau malam 1 Sura. Mereka yang berziarah pun bukan hanya warga setempat. Peziarah bahkan datang dari daerah lain, seperti Batam dan Lampung.

“Pernah ada yang ke sini dari Lampung. Dia bahkan tidur di sini selama beberapa hari. Maksud kedatangannya ya macam-macam. Intinya mencari berkah kepada Tuhan melalui pohon asam ini,” ujarnya.

Kendati demikian, saat ini jumlah peziarah ke pohon asam peninggalan Mbah Gosang itu semakin surut. Cokro menilai hal itu dikarenakan adanya perubahan bangunan pasar pasca-pemugaran pada 2017 lalu.

Letak pohon asam yang semula di tengah pasar, kini berada tepat di depan pasar. Kondisi itu pun membuat orang yang ingin berziarah menjadi tidak nyaman.

“Peziarah jadi malu dan enggak nyaman, karena pohonnya sekarang ada di depan pasar dan pinggir jalan besar. Mungkin pada malu dipergoki tetangganya dan dikira syirik. Dulu setiap hari pasti ada yang berziarah, sekarang sepi. Pada menaruh sesaji terus pergi,” tutur Cokro.

Juru kunci pohon asam di Pasar Peterongan, Cokro, tengah mengamati pohon asam yang ada di depan pasar. (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya