Akhirnya, Polines Punya Guru Besar, Ini Sosoknya...

Dosen Jurusan Teknik Sipil Polines, Prof. Muhammad Mukhlisin (tengah depan), berfoto setelah acara pengukuhan di kampus Polines, Semarang, Selasa (30/7 - 2019). (Semarangpos.com/Humas Polines)
31 Juli 2019 06:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Politeknik Negeri Semarang (Polines) akhirnya memiliki dosen dengan gelar profesor atau guru besar. Dosen Polines yang baru saja dikukuhkan sebagai guru besar itu tak lain adalah Prof. Muhammad Mukhlisin.

Dosen Jurusan Teknik Sipil Polines itu dikukuhkan sebagai guru besar pada bidang ilmu tanah. Pengukuhan dilaksanakan dalam sebuah acara yang digelar di kampus Polines, Tembalang, Kota Semarang, Selasa (30/7/2019).

Direktur Polines, Supriyadi, mengaku bangga dan bersyukur atas pencapaian akademik tertinggi pada kampus di Semarang yang telah dicapai dosen Polines itu.  "Hal ini membuktikan bahwa dosen Polines dapat mencapai gelar guru besar atau profesor. Ini merupakan gelar profesor pertama di Polines dan semoga memacu dosen-dosen lain untuk meraih prestasi serupa," ujar Supriyadi dalam sambutannya.

Supriyadi mengatakan gelar guru besar pertama ini kuga menjadi kado spesial bagi Polines yang tengah menyambut Dies Natalis ke-37, pekan depan.

Sementara itu, dalam pidato pengukuhannya yang berjudul Tanah Longsor dalam Persepektif Kajian Dasar, Penilaian Resiko dan Mitigasinya, Prof. Dr. Ir. Muhammad Mukhlisin, MT, menjelaskan tentang pentingnya penelitian mitigasi tanah longsor guna mencegah jatuhnya banyak korban jiwa.

Profesor pertama Politeknik Negeri Semarang (Polines), Prof. Dr. Ir. Muhammad Mukhlisin, MT. (Semarangpos.com-Humas Polines)

Berdasarkan data yang diperolehnya dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kejadian tanah longsor menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. "Dari data kejadian itu, Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat adalah yang terbesar dibandingkan provinsi lain di Indonesia," jelasnya.

Meski demikian, lanjut Mukhlisin, tingginya risiko itu tidak diimbangi dengan kapasitas masyarakat menyelamatkan diri, terutama di wilayah terpencil. Oleh karenanya, perlu diterapkan penelitian dasar, terapan, dan pengembangan tentang longsor guna mengurangi tingkat kerugian dan korban jiwa.

"Dengan pendekatan strategis ketahanan masyarakat di daerah rawan bencana dapat ditingkatkan secara baik," ujar Mukhlisin.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya