Defisit Neraca Dagang Hambat 7% Pertumbuhan Jateng

Ilustrasi aktivitas ekspor dan impor di pelabuhan. (Bisnis/Dwi Prasetya)
02 Agustus 2019 10:50 WIB Hafiyyan Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Rencana pemerintah memacu pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah hingga 7% tersendat oleh problem defisit neraca perdagangan. Dalam penghitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai impor adalah komponen negatif atau pengurang.

Secara sederhana apabila tidak menghitung komponen lain, semakin tinggi jumlah impor, maka akan semakin rendah PDRB. Problem tingginya impor di skala nasional, juga terjadi di Jawa Tengah. Bahkan, neraca perdagangan Jateng terakhir kali mengalami surplus pada Januari 2017.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah Sentot Bangun Widoyono menyampaikan apabila Jateng ingin mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 7%, salah satu permasalahan yang harus diselesaikan ialah pengendalian impor, sekaligus memacu ekspor. “Impor adalah komponen negatif dalam PDRB, sehingga bila ingin mencapai pertumbuhan 7%, impor harus dikendalikan,” ujarnya, Kamis (1/8/2019).

Pada Juni 2019, defisit negara dagang di Jawa Tengah mencapai US$313,63 juta atau sekitar Rp4,39 triliun (kurs Rp14.000 per dolar AS), dimana sektor migas berkontribusi US$311,53 juta atau Rp4,36 triliun. Di sektor nonmigas, defisit perdagangan sejumlah US$2,1 juta atau Rp29,4 miliar.

Kendati masih mengalami defisit neraca dagang, Jateng sudah berupaya mengendalikan impor. Pada Januari—Juni 2019, nilai impor menurun 9,46% year on year (yoy) menjadi US$6.226,91 juta.

Impor pada semester I/2019 juga mayoritas dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif, yakni sebagai bahan baku atau bahan penolong sebesar 73%, dan barang modal 20,85%, sedangkan barang konsumsi 6,14%. 

Sebelumnya, pada semester I/2018, impor untuk barang konsumsi mencapai 7,45%, sedangkan barang modal 10,38%, dan bahan baku atau penolong 82,17%. Sentot menyampaikan, salah satu upaya pengendalian impor ialah membuat industri hulu, seperti benang. Dengan demikian, produsen tekstil dan produk tekstil (TPT) dapat mensubtitusi impor dengan produk dari dalam negeri.

Di samping mengurangi ketergantungan impor, ada sejumlah elemen yang dapat didorong untuk mendongkrak PDRB, seperti meningkatkan investasi dan memacu ekspor. Sentot menuturkan, PDRB biasanya didominasi oleh tiga faktor, yakni pengeluaran rumah tangga, realisasi investasi, dan nilai ekspor.

Komponen ekspor ke luar negeri kontribusinya berkisar 30% terhadap total PDRB.  Sektor TPT menjadi andalan Jateng, karena berkontribusi 43,37% atau US$1.765,73 juta dari total ekspor non migas pada semester I/2019 senilai US$4.071,14 juta. Selanjutnya, produk kayu dan barang dari kayu berkontribusi 10,87% atau US$442,69 juta.

Menurutnya, sektor TPT dan perkayuan dapat dimaksimalkan untuk mendorong ekspor. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi juga perlu berorientasi ke penjualan jasa, bukan hanya barang. 

“Kalau pertumbuhan ekonomi kita mesti perlu orientasi lain, tidak hanya berbicara barang, tetapi jasa. Misalnya bagaimana pariwisata didorong, meningkatkan bisnis hotel, membuat event besar,” ujarnya.

Di samping pariwisata, Jateng berpotensi memacu sektor jasa pelabuhan dan perkapalan. Dengan menggunakan kapal domestik, komponen Cost, Insurance, and Freight (CIF) berbalik menjadi pemasukan dari sebelumnya pengeluaran.

Sektor jasa memang kontribusinya belum mencapai 50% terhadap PDRB Jateng. Namun, sektor ini harus menjadi salah satu fokus untuk melecut pertumbuhan ekonomi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis