Diusik KPAI, PB Djarum Emoh Ubah Nama

Peserta Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2018 lolos seleksi dan memasukki babak karantina. (Semarangpos.com/Djarum Foundation)
03 Agustus 2019 18:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, KUDUS — Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencoba mengusik Djarum Foundation dengan alasan nama Djarum identik dengan PR Djarum yang produknya dianggap berbahaya bagi anak-anak. Disarankan nama “Djarum” diganti “Jarum”, namun Bakti Olahraga Djarum Foundation menolak mentah-mentah ide tersebut.

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppi Rosimin menegaskan bahwa nama PB Djarum tidak mungkin dihilangkan atau diubah gara-gara dianggap melakukan promosi rokok dalam audisi Djarum Beasiswa Bulu Tangkis. Ditegaskannya, nama tersebut merupakan nama klub bulu tangkis bukan pabrik rokok.

"Kami tegaskan nama PB Djarum tidak mungkin dihilangkan atau diubah menjadi nama lain atau dikurangi hurufnya dari PB Djarum menjadi PB Jarum karena bisa mengurangi ruhnya sebagai sebuah klub bulu tangkis di Kudus," ujarnya menanggapi imbauan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap Djarum Foundation agar tidak melakukan eksploitasi anak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (2/8/2019).

Ia menambahkan tulisan yang tertera di kaus peserta audisi juga nama klub dan bukan nama produk rokok, seperti Djarum Black ataupun rokok Djarum. Kalaupun nantinya kaus Djarum tidak diberikan kepada peserta audisi, kata dia, tiba-tiba ada peserta yang tetap memakai kaus dengan tulisan serupa atas inisiatif sendiri apakah peserta tersebut harus didiskualifikasi dari kepesertaan audisi?

"Jika kami diminta mengimbau tentunya bisa dilakukan. Akan tetapi ketika ada yang memakai tentunya tidak bisa asal menindaknya karena mereka juga mempunyai hak untuk memakai kaus apapun saat audisi," ujarnya.

Untuk menyelesaikan tudingan KPAI bahwa dalam audisi Djarum Beasiswa Bulu Tangkis terjadi eksploitasi anak, dia menuntut perlunya ada penjelasan secara detail. Menurut dia, antara PB Djarum dengan KPAI perlu duduk bersama untuk dijelaskan secara terperinci hal-hal yang dilarang agar tidak ada salah persepsi.

"Harus ada penjelasan yang jelas dimaksud dari KPAI seperti apa. Apalagi kami juga buka-bukaan dalam melakukan audisi Djarum Beasiswa Bulu Tangkis," ujarnya.

Ia mengakui tahun lalu memang pernah bertemu dengan KPAI, namun belum ada kesepakatan atau kesepahaman. "Kami dianggap melakukan promosi rokok, padahal tidak ada sama sekali rokok karena yang ada merupakan nama klub bulu tangkis," ujarnya.

Terkait jadwal audisi umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2019, tetap digelar karena sudah mengumumkannya kepada masyarakat di Tanah Air. Adapun rangkaian seleksi yang akan digelar, yakni di Kota Purwokerto, Bandung, Solo, Surabaya, dan Kudus.

Berdasarkan pemberitaan Kantor Berita Antara, KPAI menganggap audisi bulu tangkis yang digelar Djarum Foundation telah mengeksploitasi anak. Audisi Djarum Beasiswa Bulu Tangkis juga diduga melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.

Menurut Pasal 35 ayat (1) huruf c peraturan tersebut, pengendalian promosi produk tembakau dilakukan dengan tidak menggunakan logo dan/atau merek produk tembakau pada suatu kegiatan lembaga dan/atau perorangan. Sedangkan Pasal 37 menyatakan sponsor industri rokok hanya dapat dilakukan dengan tidak menggunakan nama merek dagang dan logo produk tembakau termasuk brand image produk tembakau.

Logo dan warna yang digunakan dalam audisi bulu tangkis tersebut dianggap tidak terlepas dari brand image produk rokok. Sementara itu, pada Pasal 47 disebutkan setiap penyelenggara kegiatan yang disponsori produk tembakau dan/atau bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau dilarang mengikutsertakan anak di bawah usia 18 tahun.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara