Sudah Berizin, Gereja di Semarang Digeruduk & Disegel Warga

Lokasi pembangunan Gereja Baptis Indonesia (GBI) di Jl. Malangsari No.83 RT 006 - RW 007, Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, yang disegel warga. (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
05 Agustus 2019 16:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Kerukunan umat beragama di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng) terancam rusak. Hal itu menyusul adanya penolakan warga atas pembangunan tempat ibadah, Gereja Baptis Indonesia (GBI) di Jl. Malangsari No. 83 RT 006/RW 007, Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan.

Penolakan pembangunan gereja itu disampaikan sekitar 25 warga yang berdomisili di kawasan itu. Mereka bahkan nekat menghentikan proses pembangunan dengan menggembok pagar gereja, Kamis (1/8/2019).

Padahal, pihak gereja melalui Pendeta (Pdt.) Wahyudi mengklaim jika pembangunan gereja itu telah mengantongi izin. Bahkan, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) itu sudah dikantongi pihak gereja sejak 20 tahun silam atau 1998.

“Kalau berlarut-larut seperti ini terus, tanpa ada solusi, kami akan tetap jalan [pembangunan gereja],” ujar Pdt. Wahyudi saat dijumpai Semarangpos.com seusai mengikuti mediasi antara warga penolak, jemaah gereja, dan aparatur setempat di Kantor Kecamatan Pedurungan, Senin (5/8/2019).

Wahyudi mengatakan pembangunan gereja di kawasan itu memang sejak dulu mengalami penolakan. Penolakan kali pertama terjadi pada 1998, lalu pada 2002 dan kali ini pada 2019.

Padahal, lanjut Wahyudi gereja itu dibangun di atas lahan yang dibeli para jemaahnya. Mereka sangat menginginkan pembangunan gereja itu karena selama ini tidak memiliki tempat ibadah yang cukup layak.

“Saat ini untuk beribadah kami menggunakan rumah yang saya tempati di Jl. Kembang Jeruk XI No. 11 RT 006/RW 008, Kelurahan Tlogosari,” ujarnya.

Wahyudi pun tetap bersikukuh pembangunan gereja itu dilanjutkan. Ia bahkan siap maju ke pengadilan jika persoalan itu terus dipersulit.

Tidak jelas

Lokasi pembangunan Gereja Baptis Indonesia (GBI) di Jl. Malangsari No.83 RT 006/RW 007, Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, yang disegel warga. (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Sementara itu, salah seorang warga yang tinggal di dekat lokasi pembangunan gereja, Arbi, menyatakan tidak setuju jika ada gereja di perkampungannya. Kendati demikian, Arbi tidak menyebut secara jelas apa alasan penolakannya tersebut.

“Intinya, warga tidak setuju,” ujar perempuan itu kepada Semarangpos.com.

Informasi yang diperoleh Semarangpos.com, alasan penolakan warga itu salah satunya disebabkan adanya penipuan terhadap warga ketika prosedur pendirian IMB pada 1998.

Kala itu, sekitar tujuh warga diminta tanda tangan di kertas kosong, oleh seorang tokoh masyarakat setempat dengan dalih bukti menitipkan doa kepada seseorang warga yang tengah naik haji.

Namun, warga akhirnya tahu jika tandatangan itu sebagai bukti persetujuan atas pendirian pembangunan tempat ibadah di kawasan tersebut.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, mengaku telah mendengar laporan warga terkait masalah itu. Ia pun mengaku siap melakukan penelusuran untuk mengetahui kebenaran cerita tersebut.

“Kata warga saat itu mereka dikasih Rp25.000 untuk tandatangan syukuran. Ternyata, berubah menjadi izin persetujuan pembangunan gereja,” ujar wali kota yang akrab disapa Hendi itu.

Hendi pun meminta warga yang merasa tertipu dengan prosedur IMB itu untuk mengajukan tuntutan secara hukum. Namun, apabila IMB sudah sesuai prosedur ia meminta warga untuk mentaati.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya