Gubernur Janji Jateng All Out Bantu Sensus Penduduk 2020

Ilustrasi petugas sensus menjalankan tugas pencacahan di Temanggung, Jateng. (Antara/Anis Efizudin)
14 Agustus 2019 11:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan kesiapan mendukung Badan Pusat Statistik (BPS) dalam menggelar sensus penduduk nasional pada 2020-2021. Dengan all out mendukung, Sensus Pendudul 2020 diharapkannya lebih powerfull.

"Kami akan mendorong partisipasi masyarakat dan tentunya powerfull," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (13/8/2019).

Ganjar mengakui jika data penduduk selama ini tidak pernah valid. Meski demikian, diakuinya, single data penduduk hanya BPS yang memiliki, sehingga tetap menjadi acuan untuk menghitung data pendukung saat penyelenggaraan pemilu.

"Saya berharap sensus ini akan jauh lebih cepat dan singkat. Kerja sama dengan Disdukcapil dengan mendigitalisasi itu bisa membuat data lebih akurat. Ajak masyarakat buat vlog, lomba sosialisasi untuk aktivis sosial media," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala BPS Jawa Tengah Sentot Bangun Widoyono mengatakan bahwa berdasarkan kondisi dan perkembangan global, maka metode sensus pada 2020 menggunakan sistem registrasi untuk menuju Program Satu Data Indonesia. Dalam pelaksanaan sensus penduduk mendatang, BPS akan menggandeng Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan Kementerian Agama.

Dijelaskannya, untuk teknis pencacahan berbeda karena masyarakat yang akan melakukan pemutakhiran atau update data kependudukannya sendiri. "Bagi masyarakat yang tidak menguasai teknologi, BPS tetap menerjunkan 128.000 petugas untuk face to face dengan masyarakat," katanya.

Menurut dia, Sensus Penduduk 2020 memang berbeda karena biasanya petugas yang mengunjungi tempat tinggal penduduk, tapi nantinya masyarakat sendiri yang meng-update data masing-masing. Oleh karena itu, lanjut dia, sensus penduduk yang rencananya akan dilaksanakan sekitar Maret-April 2020 itu akan menjadi hajatan bagi seluruh rakyat dan lembaga.

"Jika dalam sensus penduduk sebelumnya itu menghasilkan data yang berbeda dengan KTP, nantinya justru akan memperbaiki data kependudukan seperti yang tertera di KTP," ujarnya.

Langkah tersebut sejalan dengan kebutuhan membentuk data kependudukan yang tunggal sehingga data penduduk bukan hanya dibutuhkan untuk mengetahui jumlah dan strukturnya, namun juga berbagai kepentingan lainnya. "Seperti halnya Kemenristekdikti sudah menggunakan NIK terkait dengan nomor induk mahasiswa, ke depan mungkin dengan data tunggal tersebut untuk membuka rekening dan sebagainya," kata Sentot.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara