300 Ton Biskuit Sragen Diekspor ke Bangladesh

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menjajal biskuit asal Sragen yang akan diekspor ke Bangladesh di Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, Rabu (21/8 - 2019). (Semarangpos.com/Humas Pemprov Jateng)
22 Agustus 2019 10:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Jawa Tengah (Jateng) untuk kali pertama melakukan ekspor biskuit ke Bangladesh. Total ada sekitar 300 ton biskuit senilai Rp5,536 miliar itu dikirim ke negara Asia Selatan dengan menggunakan 21 kontainer, Rabu (21/8/2019).

Biskuit sebanyak 300 ton yang merupakan produksi PT Tiga Pilar Sejahtera Sragen diekspor ke Bangladesh atau kerja sama dengan United States Agency for International Development (USAID).

“Ternyata kita juga turut serta dalam pemenuhan gizi internasional. Biskuit itu kan nutrisinya tinggi dan bisa mencegah stunting,” ujar Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, saat melepas ekspor biskuit di Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, Rabu (21/8/2019).

Pengiriman biskuit tersebut melengkapi jumlah ekspor produk pertanian Jateng dalam satu bulan terakhir. Dalam sebulan terakhir, Jateng juga mengekspor sarang walet senilai Rp4,2 miliar, 28 kg daun cincau ke Malaysia, 3,4 ton gula merah ke Srilangka, dan 1,2 ton margarin ke Bangladesh.

“Tentu ini menggembirakan karena bisa berkontribusi positif pada neraca perdagangan. Pesan saya ke eksportir, kalau makmur petaninya juga harus dimakmurkan,” ujar Ganjar.

Sepanjang Agustus ini, produk pertanian memberi kontribusi besar pada neraca perdagangan di Jateng karena mengekspor produknya dengan total nilai Rp586 miliar.

Kepala Balai Karantina Pertanian, Ali Jamil, menilai pencapaian itu sangat luar biasa.

"Naik 40% dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Jumlah ini bisa bertambah jika mampu memenuhi permintaan daun pakis ke Australia, kemukus, daun pandan, dan terong ke Jepang,” ujarnya.

Secara keseluruhan nilai ekspor Jateng per Mei 2019 mencapai US$776,66 juta atau naik 11,81% dibanding bulan sebelumnya, yakni April 2019 yang hanya mencapai US$694,64 juta. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas mencapai 13,14% atau dari US$685 juta menjadi US$ 775,03 juta.

"Tapi ya harus terus ditingkatkan. Pak Gubernur ini tadi siap membantu, seperti untuk flight ke Tiongkok tadi, eksportir kesulitan,” ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya